Senin, 26 April 2021

Studi ke luar negeri membawa keluarga: berapa dana yang harus dipersiapkan?

 Malam itu, 16 September 2018 malam. Itu adalah malam pertama kami sebagai suami istri. Sesampainya di Jogja, kami langsung mengadakan rapat berdua. Tentang teknis strategi dari misi besar kami; studi lanjut di luar negeri.


Saat itu, mas Fahmi sudah dalam posisi melakukan aplikasi untuk studi S3 di Swedia. Aplikasi sudah terkirim dan jika memang rejeki, maka kami harus pindah di Desember 2018. Yang pertama langsung kami pikirkan adalah keuangan. 

 

Sekolah ke luar negeri, meski dengan beasiswa, pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit. Apalagi jika membawa keluarga. Dengan tekad bulat, kami kemudian mulai menyusun target keuangan untuk pindah di akhir tahun 2018. 

 

Ternyata Allah, Yang Maha Sempurna Rencananya, paham, bahwa kami memang belum siap untuk pindah ke negara baru untuk studi lanjut di tahun 2018. Belum siap secara keuangan dan mentalnya juga. Maklum, kami masih pengantin baru yang masih sangat perlu adaptasi di sana dan sini. 

 

Tapi strategi tetaplah strategi, seiring dengan aplikasi-aplikasi studi S3 yang semakin banyak kami kirimkan, kami juga semakin intens mencari info “sebenarnya berapa sih total uang yang harus disiapkan untuk pindahan studi lanjut S3 ke luar negeri dengan keluarga?”

 

Alasan kami akhirnya memberanikan diri untuk cerita masalah ini di blog karena masih sangat sedikit orang yang secara terang2an menceritakan tentang ‘dark part’ of studi lanjut S3 ke luar negeri yang bagian ini, biaya. 

 

Berdasarkan informasi-informasi yang kami kumpulkan dan pengalaman pribadi, kami bisa simpulkan bahwa yang paling penting ditentukan adalah: 

1.     Apakah pasangan akan ikut? 

Ini penting sekali untuk dibicarakan dari awal. Jika yang studi hanya suami/istri, maka bicarakan kepada pasangan apakah akan ikut? Bagaimana dengan anak2? Karena membawa pasangan dan anak ke luar negeri itu biasanya tidak dicover oleh pemberi beasiswa.

 

2.     Biaya pre-departure. 

Setelah setuju bahwa pasangan akan ikut, maka yang selanjutnya harus disiapkan adalah mencari passport (jika belum ada), mencari info visa, dokumen dan biayanya. Jangan lupa untuk membuat anggaran persiapan visa. Karena untuk visa pasangan/dependent, biasanya syaratnya akan sangat banyak. 

 

Berdasarkan pengalaman kami, visa istri tidak ditanggung oleh beasiswa. Semua urusan visa mas Fahmi (sebagai student) dan visa saya (sebagai dependent) diurus oleh pihak Universitas Wageningen. Dokumen yang dibutuhkan untuk visa Belanda juga sangat banyak. Kami harus mempersiapkan akte lahir yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan buku nikah, yang keduanya harus dilegalisir oleh 3 Kementerian dan Kedutaan Belanda (Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM dan Kementerian Luar Negeri). Kami juga diminta menunjukkan bahwa memiliki tabungan/gaji, selain uang dari beasiswa, yang bisa menutup biaya minimum hidup berdua per bulan.

 

Sebagai informasi dan bahan persiapan bagi yang ingin studi ke Belanda, biaya untuk visa istri di tahun 2020 adalah EUR 500 (diurus oleh Expat Centre), biaya untuk legalisir ke 3 Kementerian dan Kedutaan adalah Rp25.000 per dokumen di satu Kementerian, dan EUR 26.25 per dokumen untuk legalisasi di Kedutaan Belanda. Sedangkan biaya hidup minimum berdua yang harus dipenuhi di Belanda adalah EUR 1,800 per bulan.

 

3.     Biaya departure

Setelah visa sudah ditempel di passport, yang berikutnya harus dicari adalah asuransi kesehatan dan tiket pesawat untuk istri. Kenapa untuk istri? Karena untuk student, asuransi dan tiket pesawat beserta biayanya sudah diurus oleh pemberi beasiswa. 

 

Asuransi akan banyak sekali pilihannya dan berbeda tiap orang sesuai dengan kebutuhan. Satu yang pasti, di luar negeri semua orang harus memiliki asuransi kesehatan. Bisa2 tidak boleh terbang karena asuransinya belum clear atau tidak memiliki asuransi. Biaya asuransi biasanya dibayarkan per bulan, per tahun atau bahkan ada beberapa negara yang harus lunas biaya asuransi 4 tahun (selama ikut pasangan sekolah) sekaligus. Ada baiknya ini langsung ditanyakan dan dicari tahu agar siap secara finansial nantinya. 

 

Untuk Belanda, biaya asuransi dihitung per hari sejak kedatangan. Biaya untuk asuransi kesehatan student sekitar EUR 60 per bulan. Sedangkan biaya asuransi kesehatan yang basic adalah sekitar EUR 130 per bulan. Biaya asuransi kesehatan student ini tidak mengcover kehamilan dan kelahiran. Sehingga jika memang teman-teman ada rencana untuk memiliki keturunan ketika di luar negeri, bisa langsung asuransi yang basic. Catatan paling penting: Belanda tidak mengcover kehamilan dan kelahiran apabila sudah hamil sebelum ke Belanda. Jadi penting dipertimbangkan jika memang sudah hamil sebelum berangkat ke Belanda, ada baiknya ditunda keberangkatannya hingga kelahiran anak. 

 

Untuk tiket pesawat, harganya akan sangat bervariasi tergantung rute dan tujuan destinasi Anda. Silakan pilih maskapai yang nyaman dan sesuaikan dengan budget Anda juga.

 

4.     Biaya arrival

Setelah sampai di negara tujuan, kita akan perlu tempat tinggal atau housing. Tempat tinggal di luar negeri biasanya kita menyewa pada seorang landlord dan seringnya membutuhkan deposit. Deposit adalah semacam uang jaminan yang diberikan oleh penyewa agar menjamin bahwa tempat tersebut akan dirawat dengan baik. Uang deposit akan kembali setelah masa sewa selesai. Biaya deposit umumnya sejumlah biaya sewa satu atau dua bulan. Jadi awal pertama kita datang, jika harga sewa per bulannya adalah 1 juta, maka kita akan diminta membayar 2 juta. 1 juta untuk deposit dan 1 juta lagi untuk biaya sewa bulan pertama. 

Biaya yang penting juga dianggarkan adalah biaya settlement. Biaya settlement adalah biaya awal yang kita butuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup awal sebelum uang beasiswa kita terima dan juga kebutuhan2 untuk rumah tinggal kita. Beberapa beasiswa akan memberikan settlement allowance kepada awardeenya, tapi berdasarkan pengalaman, sangat penting untuk juga mempersiapkan biaya dana darurat dan jaga-jaga diluar biaya settlement yang diberikan oleh pemberi beasiswa. 

 

Tips dari kami bagi teman-teman yang juga akan segera sekolah studi lanjut bersama keluarga, untuk segera menghitung 3 poin biaya yang disebutkan diatas. Jadikan itu sebagai target keuangan Anda dan mulai sisihkan gaji/pendapatan per bulan untuk mencapai target tersebut. Fokus pada target Anda karena biaya yang dikeluarkan bisa jadi cukup banyak. 

 

Pernah ada yang bertanya “sebut saja lah, Mbak, nominalnya. Berapa yang harus saya siapkan”, maka saya akan suggest untuk menyiapkan uang 10-20 juta rupiah (diluar beasiswa) jika Anda berangkat studi ke luar negeri dengan beasiswa dan seorang diri. Dan siapkan antara 50 – 80 juta rupiah jika Anda berangkat dengan keluarga. 

 

Selamat menyiapkan kepindahan ke luar negeri! 

Rabu, 17 Juni 2020

Catatan pernikahan tahun pertama

Pagi ini aku terbangun dengan kebingungan yang sama. Kebingungan yang sudah aku hadapi hampir satu tahun belakangan ini. Tentang makna keberadaanku. Tentang harapan dan mimpiku. Dan tentang kejutan-kejutan Allah dalam hidup. 

Sudah hampir 2 tahun aku menjadi seorang istri dari pria pilihanku. Ketika seseorang berkata bahwa menikah adalah ibadah paling panjang dan sulit, aku sungguh percaya. Tidak, bukan aku menyesali untuk menikah, hanya adaptasinya yang memang sangat menantang bahkan dari bulan pertama pernikahan.

Hidup adalah serangkaian adaptasi perubahan. Kita semua pernah menjalani hidup sebagai anak sekolah dasar yang kegiatannya hanya bermain dan sesekali belajar. Konflik hidup yang dialami juga berkisar pada berebut mainan atau cemburu pada adik karena merasa lebih disayang daripada kita. Lalu semua berubah ketika sekolah menengah, hidup tak lagi bisa ‘dinikmati’ sebagai permainan. Kita sudah harus mulai fokus pada pelajaran meski mulai juga merasakan konflik batin karena tertarik dengan lawan jenis teman sepermainan. 

Begitupun di dunia orang dewasa. Kadang aku merutuki ketidakmampuanku untuk easy-adaptdengan perubahan besar yang sedari awal sudah aku setujui terms and conditions-nya. 

Ketika seorang pribadi yang dibesarkan dari keluarga yang memiliki waktu bersama yang banyak. Yang dibesarkan oleh orangtua yang berprofesi wirausaha harus melihat suaminya pergi setiap hari pukul 8 sampai 5 untuk bekerja, hatiku sepi sekali. Seperti ditinggalkan. Lucu memang, bagaimana lingkungan keluarga saat usia dini bisa sangat berpengaruh pada kebutuhan emosional saat dewasa. Seringnya, di akhir pekan sekeluarga biasa keluar kota atau sekedar makan di restoran keluarga di kota kami. Sedangkan ketika menikah, suami bekerja sebagai pekerja yang sangat ketat terhadap waktu bahkan seringnya menghabiskan akhir pekan di tempat kerja. Satu adaptasi yang bahkan hingga hampir ulang tahun pernikahan kedua, aku belum menemukan jawaban atas kegetiran dan kekosongannya.

Kekosongan itu yang kemudian membuatku sering merindukan orang tua dan adik-adikku. Ternyata meski hati penuh cinta pada suami, tetap ada ruang di hati yang merindukan keluarga dan semua waktu-waktu yang biasa kami habiskan bersama. Pernah suatu hari, aku sudah sangat lelah dan ingin berlibur ke negeri Kanguru. Mengunjungi tempat kuliahku dulu sambil berjalan-jalan dan menikmati suasana yang aku rindukan. Ditambah kondisiku saat itu sudah sangat penat dan sangat butuh menghibur diri. Kusampaikan ajakanku pada orang tua. Mereka menyambut dengan senang ajakanku. Hanya saja, syarat dari mereka lumayan menyebalkan menurutku. Syaratnya adalah suamiku juga harus bisa ikut berlibur. Padahal jelas tidak mungkin aku mengajak suami untuk berlibur selama satu minggu. Bukan, bukan tentang uangnya. Tapi tentang izin cuti pada atasannya. Akhirnya rencana dan harapanku pupus sebelum berkembang. Lagi, aku menyalahkan pilihan pekerjaan suami yang tidak fleksibel dan kembali membandingkan dengan pekerjaan orang tuaku. Lagi, tanda aku belum berhasil adaptasi dengan perubahan.

Suatu waktu, kami harus meninggalkan rumah yang kami tempati. Memang sedari awal kami sudah berjanji akan menempati rumah tersebut dalam periode waktu tertentu. Rencananya tempat tersebut hanya menjadi ‘transit’ sebelum kami pergi ke negara lain untuk menempuh studi lanjut. Ternyata Tuhan lebih senang memberikan ujian dahulu sebelum nantinya diberikan kejutan dan hadiah-Nya. Malam itu, kami menangisi berantakannya rencana manusia karena kealpaan kami. Karenanya, kami harus meninggalkan tempat tinggal kami dan membuat rencana baru. 

Mengevaluasi dan menulis ulang rencana ternyata tidak semudah teori di buku manajemen strategi. Apalagi jika rencana ini bukan rencana organisasi yang tidak memiliki nyawa dan perasaan. Kami mengisi hari-hari membuat ulang rencana dengan saling menguatkan satu sama lain. Hingga akhirnya jatuh pilihan untuk melanjutkan hidup sebagai pasangan yang long distance marriage. Aku melanjutkan hidupku di Solo sebagai analis UMKM di usaha milik orang tua dan suami melakukan pekerjaannya di Jogja. 

Sungguh, jika kalian yang membaca ini memiliki rencana menikah dan akan LDM, aku sarankan untuk dipikirkan ulang rencana tersebut. Meski dengan kemudahan teknologi dan kepercayaan, ternyata pernikahan juga membutuhkan lekatan kasih sayang yang teknologi tak bisa membantu menyampaikannya.

Setelah kami rasa cukup 3 bulan menjalani hidup sebagai pasangan LDM, kami kemudian mengakhiri itu dan memutuskan untuk mencari kos pasutri. Iya, kalian tidak salah baca. Kami memutuskan untuk meneruskan hidup di kos pasutri.

Aku tertawa getir, hidup adalah serangkaian roller coaster. Kadang Allah beri titipan tempat tinggal nyaman dan luas. Dan dalam sekali waktu, Allah balikkan dan titipkan kita di tempat yang bahkan bukan milik kita seukuran 3x3m. Sepertinya Tuhan sedang menegur atas kelalaian kami untuk bersyukur dengan apa yang Dia beri sebelumnya. Pertimbangannya lagi, karena dalam rencana kami, ini hanyalah tempat sementara karena keberangkatan kami sudah dekat. Di sepetak kamar itu, aku banyak menulis dan membaca.  Mengikuti kelas Bahasa baru demi memberi makan ego-ku untuk berkembang. Kembali beradaptasi terhadap perubahan yang sangat signifikan dalam hidup. Sambil beberapa kali dalam seminggu pulang ke rumah orang tua untuk melaksanakan pekerjaanku.

Pernah suatu waktu aku menawarkan suami agar mau memakai tabungan pribadiku untuk membeli rumah kecil di pinggir kota Sleman. “Toh, aku menabung juga memang untuk kehidupanku dan keluarga yang sedang kujalani ini juga” – pikirku. Tapi sungguh, memilih pria bertanggung jawab sebagai kriteria nomor satu sebagai suami memanglah sepenting itu. Sambil melihatku, suamiku menjawab hangat bahwa uang dan harta yang aku miliki sebelum menikah adalah milikku sendiri. Dia merasa tidak memiliki hak atas kepemilikan dan tabungan yang aku kumpulkan seorang diri. Katanya lagi, jika aku memang ingin membantu keuangan rumah tangga, maka itu sebagai hadiah dan pemberianku kepada keluarga. Baginya, adalah kewajibannya sebagai suami untuk memberikan pangan, sandang dan papan yang terbaik bagi keluarga.

Beberapa waktu aku terdiam. Memikirkan apa yang sebenarnya sudah aku lakukan di masa lalu sehingga Allah beri hadiah sedemikian besar berupa suami yang bertanggung jawab dan menghargai istri? Lagi, sepertinya Tuhan sedang mengingatkan untuk meninggikan syukur diatas setiap keluhan.
Secara agama, semestinya istri selalu hormat dan sayang pada suami. Namun secara psikologis, ada masa-masa dimana aku mulai mempertanyakan ketidakmampuan suami dalam beberapa hal. Saat itu, mungkin aku lupa bahwa semua manusia pasti ada kekurangannya. Ketika aku mencintai kelebihan suamiku, maka aku juga harus menerima kekurangan yang dibawa bersamanya. Lagi, hal ini butuh adaptasi dan kebesaran hati yang luas. Aku masih sangat perlu belajar untuk itu dan sangat berterimakasih pada suamiku atas kesabarannya menghadapiku.

Jika pernikahan diibaratkan sebagai pesawat terbang, maka suami adalah pilot dan istri adalah co-pilotnya. Meski bagi penumpang, pilot hanya berkomunikasi beberapa patah kata tentang kondisi pesawat, tapi tidak di dalam kokpitnya. Selalu ada diskusi dan komunikasi dengan Bahasanya sendiri tentang keadaan pesawat itu. Agama dan keimanan adalah angin yang kemudian menerbangkan pesawat itu. Sungguh, tulisan ini semata untuk menjadi catatan kami sendiri. Bahwa imam dalam rumah tangga sangatlah penting untuk beriman dan beragama. Aku membayangkan pesawat yang porak poranda karena pilotnya tak memahami cara membaca arah angin dan tak mengerti bagaimana angin akan memudahkan perjalanan pesawat tersebut.

Ini bagian terakhir yang ingin kutulis dalam catatan ini. Bagaimana menambahkan anggota baru dalam hidup kita, juga menambah banyak pertimbangan berikutnya. Memiliki mertua dan keluarga baru adalah hampir sebuah pasti jika kalian memilih untuk menikah. Hal yang kusyukuri adalah tentang keluarga suami dan keluargaku yang ternyata mirip dalam pandangan hidup. Tentang berbagi pada sesama. Tentang memandang agama sebagai dasar hidup. Tentang iman dan kepercayaan pada Tuhan bahwa Dia lah Maha Terencana. Meski pasti diantara banyaknya persamaan pasti ada satu dua atau bahkan belasan perbedaan. Lagi, disini kemampuan adaptasi diuji.

Di sore hari ini, aku menutup tulisanku. Sayangnya masih dengan kebingungan yang sama dengan saat menulis kata pertama di file ini. Tapi tak mengapa, pikirku. Biar waktu yang nanti menjawab mengapa dan mengapa yang semakin banyak kutanyakan saat menjadi dewasa. Tak apa, tak semua hal harus ada jawabnya sekarang. Selamat mengudara dengan pesawat pernikahan, Zidnie. Terimakasih suamiku, sudah mau berjuang bersama menghadapi banyaknya awan, pelangi dan badai dalam jalan hidup kita berdua. Selamat satu tahun sembilan bulan pernikahan. Semoga catatan ini kelak mengingatkan kita berdua, bahwa kita melewati banyak fase bersama. 

Yogyakarta, 16 Juni 2020.
Bu Obi.

Minggu, 24 Mei 2020

Pengalaman Mendaftar dan Mendapat Beasiswa “Stipendium Hungaricum Scholarship Programme (Beasiswa Pemerintah Hongaria)” untuk jenjang Master (S2) dan Doktoral (S3)

Assalamu’alaikum
Halo semua! Apa kabar?

Disclaimer: Semua yang tertulis di sini berdasarkan pada pengalaman pribadi dan aturan di tahun pada saat saya mendaftar beasiswa ini. Saya adalah salah satu penerima beasiswa angkatan pertama.



Pada kali ini saya menuliskan pengalaman saya dalam mendaftar Beasiswa Stipendium Hungaricum Scholarship Programme (SH). Beasiswa ini merupakan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Hongaria kepada mahasiswa dari negara-negara yang menjalin kerjasama dengan Negara Hongaria, salah satunya adalah Indonesia.

Rasanya agak terlambat kalau saya membagi pengalaman mendaftar beasiswa ini karena saya mendapatkan beasiswa ini untuk jenjang S2 pada tahun 2016 dan jenjang S3 pada tahun 2019. Namun, semoga tulisan di blog ini bisa memberikan gambaran mengenai apa saja langkah-langkah dan persiapan untuk mendaftar beasiswa ini.

Sebelum masuk jauh ke syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi dan proses apa saja yang dilalui, ada baiknya saya sampaikan mengenai fasilitas yang disediakan oleh beasiswa ini. Penerima beasiswa SH ini akan mendapatkan beberapa fasilitas, antara lain:

  1. Tuition fee selama masa studi
  2. Biaya Visa dan Residence Permit (Izin tinggal di Hongaria)
  3. Asuransi kesehatan sebesar HUF 65.000
  4. Uang saku mahasiswa master sebesar HUF 40.000/bulan (sekarang jadi HUF 43.700/bulan). Mahasiswa doktoral diberikan living cost sebesar HUF 140.000/bulan pada tahun I dan II, sedangkan pada tahun III dan IV adalah HUF 180.000/bulan.
  5. Accommodation cost sebesar HUF 40.000/bulan (Accommodation cost ini akan hangus apabila mahasiswa memilih untuk tinggal di asrama)
** Saat tulisan ini dibuat, Mei 2020, 1 HUF (Hungarian Forint) = IDR 46,16

Bisa dibilang, beasiswa ini memiliki sistem seleksi yang agak berbeda dengan beasiswa lainnya karena sistem pendaftaran dan seleksinya melalui 1 pintu, yaitu https://stipendiumhungaricum.hu/.

TAHAP I (SELEKSI BERKAS)

Pendaftar dipersilakan untuk memilih 3 pilihan program studi di universitas yang sama atau berbeda. Pemilihan ini didasarkan pada ketersediaan apakah negara kita masuk pada list program studi atau tidak. Informasi tersebut bisa diakses di sini https://stipendiumhungaricum.hu/apply/#timeline

Pada kesempatan tersebut, untuk jenjang master saya mendaftar Animal Husbandry Engineering di University of Debrecen sebagai pilihan pertama, sedangkan pilihan kedua dan ketiga saya adalah Animal Nutrition and Feed Safety Engineering di University of Kaposvár dan Agriculture Engineering di University of Debrecen. Saya menempatkan University of Debrecen pada pilihan pertama karena kampus tersebut memiliki reputasi dan kerja sama yang baik di bidang Agriculture, khususnya peternakan. Sedangkan, untuk jenjang doktoral, saya hanya memilih Doctoral School of Animal Science di University of Debrecen.


Halaman awal pembuatan akun Stipendium Hungaricum

Setelah itu, kita diminta untuk membuat akun di website https://apply.stipendiumhungaricum.hu/ karena semua pengisian syarat aplikasi dan pengunggahan berkas akan dilakukan di sana. Selain itu, melalui website tersebut semua progress dan pengumuman tentang beasiswa akan diumumkan di situ. Adapun syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mendaftar S2 dan S3 adalah sebagai berikut:


  1. Curriculum Vitae (CV)Pendaftar beasiswa dipersilakan untuk mengisi biodata diri yang sudah ada di website. Adapun biodata yang perlu diisi adalah profile diri, kontak dan alamat yang bisa dihubungi, Riwayat Pendidikan, Bahasa, pengalaman kerja, aktivitas organisasi dan hobi, dan juga pengalaman tempat tinggal.
  2. Motivation letter. Pendaftar diberikan kesempatan untuk menuliskan motivation statement sebanyak 500-600 kata yang dituliskan pada isian website. Tips menulis motivation letter ada di postingan saya yang ini: https://obifahmi.blogspot.com/2020/04/mempersiapkan-cv-dan-motivation-letter.html
  3. Recommendation (khusus yang mendaftar jenjang S3). Para pendaftar diminta untuk mencari rekomendasi dari setidaknya 2 orang yang pernah bekerja sama dengan pendaftar. Rekomendasi akan dibuat dalam bentuk surat dan ditandatangani oleh pemberi rekomendasi. Selain itu, pemberi rekomendasi akan diberikan tautan pada email masing-masing dan diminta untuk mengisikan beberapa poin yang terkait dengan hubungan dengan pendaftar
  4. Mencari calon Supervisor (khusus yang mendaftar jenjang S3). Fungsi mencari calon pembimbing adalah untuk menentukan minat riset kita dan juga project yang tersedia pada setiap supervisor yang ada. Kesesuaian ini bisa diakses melalui www.doktori.hu. Saat saya mendaftar beasiswa ini untuk studi S3, saya menghubungi supervisor yang membimbing saya sewaktu penelitian dan mengerjakan thesis S2. Kebetulan, di saat saya mendaftar S3, beliau memiliki research project yang sesuai dengan minat.
  5. Research Proposal (Khusus yang mendaftar jenjang S3). Setelah mendapatkan calon supervisor, peserta kemudian diminta untuk membuat proposal penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang sebelumnya sudah didiskusikan terlebih dahulu dengan calon supervisor. Karena tidak ada format yang mengikat, saya sarankan bertanya ke calon supervisor mengenai konten apa saja yang harus dimasukkan ke dalam proposal.
  6. Dokumen passport. Passport yang akan digunakan pastikan masih berlaku, ya.
  7. Ijazah S1 dan S2 dalam bahasa Inggris (ijazah S2 bagi pendaftar S3)
  8. Transkrip nilai S1 dan S2 (transkrip S2 bagi pendaftar S3) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris
  9. Sertifikat Kemampuan Bahasa Inggris. Saya sarankan untuk mempersiapkan IELTS, meskipun SH juga menerima TOEFL. Batas minimal IELTS tergantung Universitas. Silakan dicek di Universitas masing-masing.
  10. Surat sehat bebas AIDS, Hepatitis A, B, dan C. Untuk surat sehat ini, kita juga diminta untuk melampirkan hasil uji lab. Pengalaman saya yang tinggal di Yogyakarta, kita bisa melakukan tes di Balai Kesehatan Kota Yogyakarta. Biayanya sekitar Rp 500.000 (biaya pada tahun 2019). Surat sehat juga tidak memiliki format yang mengikat, sehingga saya menggunakan template medical certificate yang saya dapat dari internet yang kemudian diisikan oleh dokter dan diberikan cap oleh instansi yang berwewenang (Laboratorium / rumah sakit yang mengeluarkan surat ini).
Setelah semua terunggah, maka berkas akan dikirimkan ke sending partner, dalam hal ini yang bertanggungjawab di Indonesia adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian, sending partner akan melakukan seleksi berkas dan mengirimkan nama-nama yang terseleksi kembali ke pihak SH untuk diumumkan kepada pendaftar siapa saja yang lolos seleksi berkas.

Tahap selanjutnya, SH akan menghubungi pihak universitas yang telah kita daftar untuk memberikan list nama-nama pendaftar yang lolos seleksi berkas. Setelah mendapatkan list tersebut, pihak universitas akan mengirimkan email kepada pendaftar untuk melakukan ujian secara online. Dalam email itu, akan dijelaskan tentang waktu pelaksanaan, perangkat apa saja yang harus disiapkan, dan model ujiannya. Dalam kasus ini, saya hanya diberikan test wawancara saja.

TAHAP II (SELEKSI WAWANCARA)

Pada saat saya mendaftar untuk jenjang master, saya melakukan wawancara sebanyak 2 kali karena saya mendaftar di 2 institusi yang berbeda.
  1. University of Debrecen melakukan wawancara pada tanggal 14 Juni 2016 antara pukul 13.00 – 14.00 WIB. Pada sesi kali ini, saya diwawancara oleh Dr. Komlósi István, saat itu, beliau adalah dekan dari Faculty of Agricultural and Food Sciences and Environmental Management, University of Debrecen. Pada saat itu, beliau menanyakan tentang pengetahuan dasar tentang peternakan dan make sure bagaimana komunikasi kita dalam Bahasa Inggris. Interview tersebut hanya memakan waktu sekitar 10-15 menit
  2. University of Kaposvár melakukan wawancara satu minggu kemudian yaitu pada tanggal 21 Juni 2016. Wawancara tersebut menghadirkan 4 orang dosen yang salah satunya adalah dosen yang khusus menilai tentang komunikasi Bahasa Inggris kita. Pertanyaan yang ditanyakan tidak jauh beda dengan wawancara oleh University of Debrecen, tetapi saya sempat ditanyakan beberapa hal yang bersinggungan dengan pertanian di Indonesia. Wawancara ini memakan sedikit lebih banyak waktu dari University of Debrecen yaitu sekitar 20 menit.
Sedangkan, untuk jenjang doktoral, wawancara dilaksanakan oleh pihak University of Debrecen pada tanggal 15 April 2019 pukul 15.00 WIB. Pewawancara pada saat itu adalah Dr. Komlósi István dan Dr. Czeglédi Levente (Calon supervisor S3). Interview pada saat itu, suasananya cenderung lebih cair dan hangat karena memang kami sudah pernah bekerjasama dan berhubungan baik sebagai dosen dan mahasiswanya. Pertanyaan yang ditanyakan kepada saya pada saat itu memang lebih kompleks daripada saat wawancara S2 karena tidak hanya ditanya tentang keilmuan, tetapi mengenai apa saja parameter yang akan diambil dalam riset dan rencana riset yang lebih detail.

Intinya, kalau melalui fase wawancara ini, yang harus kita siapkan adalah seluruh berkas dan dokumen yang telah kita submit pada saat pendaftaran karena semua berkas tersebut akan dikonfirmasi kepada kita dan juga sebagai satu-satunya media bagi pewawancara untuk mengetahui segala hal tentang kita. Oleh karena itu, sangat saya sarankan untuk benar-benar menguasai atas apa yang kita tulis saat mendaftar dengan berlatih interview sendiri atau dengan teman.

TAHAP III (PENGUMUMAN)

Ada perbedaan cara pengumuman Ketika saya mendaftar beasiswa ini pada tahun 2016 dan tahun 2019. Pada tahun 2016, Alhamdulillah, setelah melewati proses yang cukup panjang, akhirnya saya dinyatakan lolos dan mendapatkan beasiswa ini. Namun, pada tahun 2019, setelah selesai wawancara, universitas akan mengirimkan nilai hasil wawancara ke SH untuk diumumkan. Pada saat fase ini, pendaftar akan dikirimkan pengumuman melalui email dan akun SH masing-masing. Hasil final ini akan dibagi ke 3 kategori, yaitu diterima, ditolak, dan masuk waiting list. Bagi siapa saja yang diterima, harus mengkonfirmasi kesediaannya untuk mendapatkan beasiswa ini dengan cara mengisi formulir singkat di akun SH-nya masing-masing. Pada tahun 2019 itu, Alhamdulillah saya diterima kedua kalinya untuk melanjutkan jenjang doktoral di beasiswa ini, tetapi sayangnya saya harus mundur dari kesempatan ini karena ada alasan lain. Berikut merupakan gambaran tahap konfirmasi yang harus dilakukan oleh penerima beasiswa. 

Tahap konfirmasi 1: verifikasi hanya dengan klik “Okay, continue to step 2”


Tahap konfirmasi 2: verifikasi dengan memilih salah satu dari 4 pilihan yang menentukan keputusan kelanjutan penerimaan beasiswa ini. Kemudian klik “Save my choice and finish”


Tahap konfirmasi 3: konfirmasi selesai


Beasiswa ini saya rekomendasikan bagi teman-teman yang ingin mencoba untuk studi di negara yang belum populer, tetapi memiliki kualitas pendidikan yang baik.

Sekian tulisan saya mengenai pengalaman Mendaftar Stipendium Hungaricum Scholarship Programme untuk jenjang Master dan Doktoral. Untuk pertanyaan, silakan email ke: mochammad.fahmi.h@mail.ugm.ac.id. Semoga bermanfaat.

Salam,
Fahmiobi.

Jumat, 15 Mei 2020

Pertama kali rawat inap: sakit Bronchopneumonia saat Ramadan

Halo, semua!
Apa kabar? 

Sudah hampir 2 bulan ini ya nggak terasa kita sudah #dirumahsaja karena Covid-19. Apakah sudah mulai bosan? Kalau aku malah udah mulai cuek ya. Kaya “yaudahlah di rumah happy aja ternyata. (Soalnya mas Obi juga work from home, kalau dia kerja kudu ke kampus sih ya aku malas juga di rumah aja sendiri ngapain hahahaha)”

Karena penasaran dan beberapa kali berita dan artikel tentang penyakit Corona ini berseliweran, akhirnya mau nggak mau baca juga lah ya kita tentang penyakit baru ini. Salah satu yang aku baca, katanya Corona ini adalah virus yang menyerang paru, mirip dengan penyakit pneumonia. Langsung kaget dong! Keinget setahun lalu untuk pertama kalinya aku harus rawat inap di Rumah Sakit karena penyakit pneumonia juga. Setelah discharge dari rumah sakit, sempet janji untuk nulis pengalaman sakit itu yang dicover oleh BPJS. Maka jadilah aku tergerak untuk menulis ini, satu tahun kemudian hahaha.

----- 

Mei 2019. 

Bulan ini adalah bulan Ramadhan pertama bagi keluarga kecil kami. Jujur saja sebagai orang yang overthinking dan planner macam aku, memikirkan menu sahur dan berbuka ini lumayan menantang dan bikin stress. Belum lagi kekhawatiran jika tidak bangun maka alamat suami juga otomatis tidak sahur. Stress sekali rasanya. Ditambah, 2 bulan setelahnya kami harus pindah dari rumah yang kami tempati. Memikirkan dan membayangkan kemana harus pindah itu membuat stress yang amat sangat. 

Beberapa hari di awal Mei aku mulai batuk berdahak. Tapi karena tidak mengganggu dan frekuensinya tidak sering, aku abaikan. Aku pikir karena ya musim batuk aja gitu. Ternyata aku salah. 

24 Mei 2019. 

Setelah berbuka puasa, aku mandi dan siap-siap tarawih. Ternyata aku menstruasi! Langsung bahagia gitu, bebersih diri sambil membayangkan “hore, besok bisa makan siang pake nasi padang!” – para wanita pasti tahu perasaan ini saat datang bulan di bulan Ramadhan. Setelah mandi, kami siap-siap untuk tarawih di Masjid Gede Jogja. Memang sengaja untuk mencoba tarawih keliling masjid di Jogja. Aku? Aku hanya duduk saja di shaf belakang karena baru saja halangan. Malam itu angin berhembus lumayan kencang dan aku tidak pakai jaket.

Kembalinya ke rumah, aku merasa tidak enak badan. Kepalaku berputar hebat dan badan rasanya gembreges. Bahkan untuk berdiri saja nggak sanggup. Mas Obi kemudian menyuapi aku makan lauk sop dan ayam yang untungnya sudah sempat aku masak sebelum musibah itu. 

Sayangnya, aku juga tidak nafsu makan. Rasanya mual juga. Meski aku tahu masakanku biasa saja sih, tapi biasanya aku lahap-lahap saja kalau makan. Aku paksa untuk makan sedikit lagi dengan kondisi mata tertutup agar tidak terlalu mual dan aku akhiri dengan minum Biogesic, obat andalan kalau lagi pusing dan demam. 

Sempat mendokumentasikan suasana tarawih di Masjid Gede Jogja
Keesokan harinya. 

Pagi itu aku merasa sudah agak baikan dan bisa menyiapkan sahur untuk mas Obi. Menemani dia untuk sahur juga. Mas Obi pun ke kampus seperti biasa. Aku juga beraktivitas di rumah seperti biasa. 

Seharian aku paksa untuk makan, minum obat, dan tidur. Tapi ternyata suhu badan panas luar biasa dan pusingnya semakin menjadi-jadi. Aku telfon mas Obi agar pulang lebih awal karena ke kamar mandi pun lemas sekali rasanya. 

Setelah mas Obi berbuka, aku meminta untuk diantar ke Kimia Farma untuk berobat karena rasanya tidak sanggup lagi. Kami pesan grabcar malam itu dan perjalanan ke Kimia Farma. Apotek itu dipilih karena itu adalah letak praktik dokter yang paling dekat dengan rumah kami. 

Di Kimia Farma, kami harus menunggu satu jam karena dokternya masih buka bersama (aduh!). Karena pusing dan demam tinggi, akhirnya aku tiduran di kursi tunggu sambil dipijat tangannya sama mas Obi. Jam setengah 8 malam, datanglah si dokter. Syukur kami antrian pertama jadi langsung masuk. Aku ingat sekali malam itu ditensi dan hasilnya cukup rendah. Di cek suhu juga dan hasilnya 39. Dokter menyarankan untuk malam ini ke IGD minta diinfus karena nadiku cepat dan tensi sangat rendah. Dia juga menyarankan untuk menunggu 3 hari jika demam tidak membaik segera ke Rumah Sakit untuk cek darah, diagnosa dokter bisa jadi DBD. Dokter memberikan obat sanmol forte untuk menurunkan panas, vometa untuk mengurangi mual muntah dan satu lagi obat saya lupa sih obat apa.

Kembali ke rumah, kami putuskan untuk pindah ke kamar bawah karena aku kedinginan (no AC sepanjang malam plus 2 lapis selimut) dan biar bolak-balik dapur dan kamar mandi dekat. Malam itu sesekali aku terbangun, muntah dan haus sekali rasanya.

26 Mei 2019. 

Hari itu mas Obi izin tidak berangkat ke kampus karena pagi itu aku masih demam meski sebenarnya sudah tidak pusing lagi. Hari itu aku merasa seperti Flash di film Zootopia, lemah dan semua yang kulakukan rasanya ada di mode slowmotion. Makan sedikit saja, muntah. 

Kami sudah sepakat jika sampai nanti sore tidak membaik, besok ambil darah di Rumah Sakit JIH Jogja. Siangnya, aku konsultasi ke beberapa teman dokter via whatsapp. Seorang teman malah bercanda “jangan-jangan kamu hamil, Zid?”. Ya gimana ceritanya jelas-jelas lagi dapet kok -_-. Ternyata sampai malam, demamku tak kunjung turun. Kami sudah menyiapkan rencana besok pagi-pagi ke rumah sakit JIH. 

27 Mei.

Pagi ini badanku semakin tidak karuan. Selain demam, mual, muntah, pusing, dan lemas pagi ini ditambah badannya linu sekali. Jam 7 pagi aku buat reservasi ke dokter umum JIH via SMS. Wow ini sangat membantu sekali sih. Nggak kebayang kalau adegan Kimia Farma terulang kembali yang harus tiduran di ruang tunggu huhu.

Jam 8 pagi kami berangkat ke JIH, di perjalanan aku memberi kabar ke orang tua kalau aku ke JIH dan jika harus opname, aku akan opname di JIH. Orang tua kemudian menawarkan jika harus opname lebih baik di Solo karena akan lebih banyak orang yang bergantian jaga. Kasian juga mas Obi kalau harus sendirian jaga sedangkan harus berangkat kerja juga. Disini aku sedih juga sih, kenapa merepotkan orang tua. Tapi ya ada benarnya juga.

Di JIH, antri dan cek tensi. Tensiku masih rendah tapi suhu tubuh sudah turun ke 37 koma sekian. Di ruang konsultasi ketemu dokter yang cantik amat sampai salah fokus haha. Namanya dr. Martian Filosofia. Dokter menyarankan untuk diambil darahnya dulu. 

Ini nih yang paling aku takutkan. Anaknya lemah sekali sama jarum-jaruman. Hampir tiap suntik apapun, vaksin meningitis, influenza, apa aja lah you name it, pasti aku nangis. Disini aku sudah siap-siap tissue jika nangis nih hahaha. Ternyataaa.. mbaknya yang ambil darah jago banget asli! Jarum pertama memang nggak berhasil, di jarum kedua dia berhasil sambil bilang “wah, mbak ini venanya kecil sekali ya. Saya jadi harus pakai jarum anak”. Disitu baru aku menyadari bahwa selama ini sakit karena ya jarumnya ‘kebesaran’ buat aku. Udah tuh, udah selesai ambil darahnya, diminta menunggu sebentar lalu kembali ke dokter Fia untuk dikonsultasikan. 

Keluar dari ruang ambil darah, ternyata orang tua dan adekku sudah sampai Jogja. Huhu langsung peluk mereka sambil nahan nangis banget. Merasa bersalah karena nyusahin tapi seneng karena diperhatikan. Kembali ke ruang dokter, kata dr Fia, trombositku ada di batas atas. Katanya lebih baik diambil darah lagi besok pagi untuk dicek. 

Keluar ruangan, ternyata bapak sudah telfon temennya yang spesialis penyakit dalam di Solo tentang kondisiku. Katanya jika trombosit masih baik, lebih baik dicek langsung. Khawatir tipes atau penyakit lain. Oke deh nurut. Setelah ambil obat dan bayar-bayar, aku langsung kembali ke rumah dan siap-siap untuk dibawa ke rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo. Disini nih bagian paling sedih. Harus pisah sebentar sama mas Obi karena dia akan tetap tinggal di Jogja untuk bekerja dan aku harus di rumah biar ada yang merawat. 

Jam 14.00 kami sampai di RS PKU Muhammadiyah Solo dan kami bertemu dr. Arifin, Sp. Pd, KIC, Finasim. Bagian paling lucu dari konsultasi ini adalah dokternya selow banget. Sambil ketawa-tawa dia tanya bagian mana dan tanda apa saja aku sakit. Aku serahkan juga kertas hasil lab di JIH Jogja. Katanya “Bukan DB ini. Tipes juga nggak. Saya malah curiga dengan batuknya”. 

Kaget luar biasa! Memang sejak awal Mei aku batuk, tapi aku merasa batuk tidak akan menjadi masalah sebesar ini. “Ini nafasnya beda. Saya kasih antibiotik ya. Statusnya opname di rumah aja. Telfon saya kalau kenapa-napa” ujar dokter sambil mengarahkan stetoskopnya ke dadaku. Aku masih merasa heran, bagaimana bisa aku batuk sampai selemas, pusing, demam dan drama seperti kemarin? 

Aku pulang dari RS dengan masih bingung tapi lega. Alhamdulillah bukan sakit yang serius, pikirku saat itu.

28 Mei 2019. 

Siang itu sangat ajaib! Aku sudah bisa berdiri dan jalan-jalan di rumah. Makan bubur juga sudah oke dan tidak lagi muntah. Aku saat itu benar-benar berpikir apa mungkin aku stress saja, sakit psikosomatis bahasanya. Itu hanya pikiranku saja yang bikin aku lemah kemarin. Sebenernya aku nggak papa kok. 

Hingga malam itu, jam 8 malam. Aku kembali demam tinggi, badan rasanya linu dan lebih lemas dari sebelumnya. Aku kedinginan dan ingin meraih remote AC, tapi bahkan tidak sanggup. Nafasku pendek-pendek, keringat dingin dan ketika aku ingin memanggil orang tua ku untuk minta tolong, tidak ada suara yang keluar. 

Orang tua ku saat itu tengah makan malam berbuka puasa ketika aku terdampar di sofa ruang tamu. Rencananya sih mau jalan ke ruang makan memanggil mereka, tapi baru sampai sofa ruang tamu juga sudah tak kuasa hahaha. Ibuk kemudian mendapati aku dan langsung teriak memanggil bapak. Bapak langsung telfon dr. Arifin untuk bisa datang ke kliniknya. Tanpa babibu, langsung diminta kesana. Saat itu juga aku dipakaikan jilbab dan langsung dibopong masuk ke dalam mobil. 

Sampai di klinik, aku sudah tidak sanggup berdiri. Rasanya kaya hewan tanpa tulang belakang gitu lho. Nggak ada tulang yang bisa digerakkan hahahaha. Akhirnya dr. Arifin keluar dan memeriksa aku di dalam mobil. Nggak ada 1 menit setelah dr. Arifin menempelkan stetoskopnya, beliau langsung bilang “langsung PKU aja, Pak. Masuk IGD, bilang kiriman dr. Arifin”. Langsung setelah itu, aku dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Solo. 

Perjalanan harusnya hanya 20 menit ya dari klinik dr. Arifin yang kebetulan di dekat rumahku ke RS PKU Muhammadiyah, tapi rasanya sungguh lama sekali. Di dalam mobil, aku dipijat Ibu sambil Ibu mengucap istighfar yang banyak. Aku juga sesekali muntah di plastik yang ibu pegang. 10 menit berikutnya aku hanya merasakan pusing, mual, nafasku semakin pendek-pendek dan pandanganku sudah kabur. Gelap rasanya. Aku hanya bisa merasakan tepukan Ibuk di pipi. Tapi sudah tidak bisa jelas melihat sekeliling dan sampai mana perjalanan itu. 

Aku juga bisa mendengar mobil dibuka dan percakapan perawat IGD dengan bapak ibukku. “Ini yang sakit mana, Bu? Bukan patah kan? Bisa saya gendong tidak?” kata perawatnya. “Wah aku sudah sampai. Sabar Zid, sedikit lagi” kataku menguatkan diri. Saat digendong perawat untuk dipindah ke kasur dorong IGD, aku juga tidak bisa melihat sekeliling, aku tidak bisa lihat wajah perawatnya, atau bapak ibukku, atau berapa banyak orang di sekitar. Meski aku tahu IGD itu terang sekali dan cahaya putih lampunya nampak meski aku tidak bisa melihat yang lain. 

Di kasur IGD, aku tidak langsung diberi infus. Bapak ibuku dimintai keterangan tentang namaku, tanggal lahir, dokter yang mengirim, riwayat penyakit dan kartu BPJS. Sungguh beruntung, meski semua dompet, HP dan identitas diriku tertinggal di rumah. Ternyata Bapak punya scan semua identitas kami sekeluarga di online cloudnya. Lengkap dengan kartu BPJS kami. Alhamdulillah. 

Setelah clear biaya dan kartu BPJSnya, aku kemudian bisa diproses oleh dokter jaga dan perawat jaga di IGD untuk dipasangi infus dan dicarikan kamar. Disini aku baru merasa pentingnya menyimpan semua dokumen penting di cloud, teman-teman. Sungguh tidak terbayang jika Bapak tidak pernah scan kartu-kartu kami dan tidak menyimpannya di internet. Masak iya harus balik lagi ke rumah untuk cari semua kartu-kartu itu -_-. 

Saat dipasangi infus, aku bisa merasakan linu yang cukup lama. Perasaanku sih ibu perawatnya pakai jarum dewasa nih. Soalnya aku sempat lihat darahnya kemana-mana dan di lap tissue sama si ibu perawat. Sambil ketawa nahan sakit aku bilang “Bu, pakai jarum anak ya. Vena saya kecil”. Setelah diganti jarum, baru deh berhasil infusnya terpasang. Ibu saya tertawa dan bilang “badanmu kecil sampai se vena-venanya juga kecil ternyata”. Di situ aku bisa melihat ibu saya matanya merah, yakin 100% sejak awal sampai sepanjang jalan ke IGD pasti ibuku nangis. Kasian :(

Jam 23 aku dipindah ke kamar VIP dengan kursi roda. Ternyata penentuan kamar ini juga berdasarkan kartu BPJSku. Karena BPJSku kelas 3, maka seharusnya aku dapat kamar kelas 3. Jika ingin upgrade ke VIP, maka tinggal bayar perbedaan harganya saja. Hal ini juga langsung clear karena usaha keluargaku ada kerjasama dengan RS PKU Muhammadiyah Solo. Jadi semua bill akan ditagihkan ke bendahara perusahaan. 

Aku kemudian ditempatkan di lantai 4 gedung baru di kamar VIP apa ya namanya lupa. Kamarnya lumayan luas dengan satu sofa penunggu, TV, AC, kamar mandi ya standar kamar rumah sakit lah. Perawatnya juga baik sekali yang shift malam itu. Karena merasa sudah secure dan ditangani oleh orang yang paham, aku memaksakan diri untuk tidur. 

Foto yang diambil buat dikirim ke mas Obi. Pertama kali ngabarin kalau resmi harus rawat inap.
Pas ini sama sekali nggak ngerti kenapa aku sampai begitu dan harus rawat inap

29 Mei. 

Pagi itu aku sudah jauh lebih baik. Suhu tubuh sudah normal, pusing juga sudah tidak. Tetapi aku diinfo akan rontgenjam 8 pagi untuk tahu hubungan batuk dengan semua gejala-gejala yang aku alami.

Rontgen berjalan lancar, seperti pada umumnya. Diminta untuk mengganti baju dengan baju khusus rontgent serta kalung dan bra diminta untuk dilepas. Saat itu mataku pedas sekali. Pengennya segera kembali ke kamar dan tidur. 

Sorenya dokter Arifin visit dan menanyakan keadaanku. Yang kuingat, semua obat disuntikkan lewat infus. Hanya ada satu dua obat yang diminum secara oral. Sehingga total ada 6 obat yang dimasukkan ke tubuhku. Sayangnya, aku lupa menanyakan hasil rontgentku sore itu karena dokternya selow sekali. Malah menanyakan keberadaan suamiku dan basa-basi yang lain. 

Hari ketiga di Rumah Sakit. 
Jujur saja, aku tidak tahu aku sakit apa sampai hari ketiga di rumah sakit. Saat itu mas Obi datang ke rumah sakit dan lewat nurse station. Secara tidak sengaja mas Obi dengar perawat itu membahas “kamar nomor VIP C sakit apa sih?” dan yang lain menjawab “paru-paru”. Dari situ aku baru tahu bahwa aku benar-benar sakit, bukan karena psikosomatis, dan ternyata karena infeksi pada paru-paruku. Bahasa ilmiahnya adalah bronchopneumonia. Dari situ kemudian aku belajar bahwa infeksi paru itu sebenarnya paling besar resikonya pada orang tua diatas 65 tahun dan peminum alkohol. 

Jelas aku bukan termasuk kedua bagian itu, lalu kenapa? Kemungkinan besar adalah karena aku berkendara dengan motor dan jarang sekali menggunakan masker. Bisa juga karena tetangga sempat sangat intens bakar-bakar sampah di dekat rumah. Atau bisa juga karena bakteri dari sekitaran dan aku tidak mencuci tangan setelah memegang sesuatu (yang mungkin saja mengandung bakteri tersebut) kemudian aku menyentuh hidung atau muka. 

Niat banget bawa segepok skincare dan pake di bed.
Pokoknya meski sakit paru-paru, muka tep harus glowing hahahaha


Hari keluar dari rumah sakit. 

Setelah 4 hari di rumah sakit, hari itu hari ke 22 puasa Ramadhan, aku dinyatakan boleh pulang oleh dokter Arifin. Senang sekali rasanya. Sudah bosan di rumah sakit dan ingin lebaran di rumah.

Sebelum keluar dari rumah sakit, seperti biasa seluruh urusan administrasi sudah harus kelar. Sungguh alhamdulillah, aku dan keluarga merasa sangat terbantu dengan adanya BPJS. Aku dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit dengan membayar 0 rupiah!! – Ps: biaya upgrade kamar ditagihkan ke perusahaan keluarga. 

----

Pengalaman pribadi yang panjang sekali dalam cerita ini akhirnya sampai pada sebuah pesan yaitu: rajin cuci tangan dan pakai masker jika keluar rumah (apalagi berkendara dengan motor). Pesan itu juga yang di masa Covid-19 ini digaung-gaungkan bisa mengurangi resiko penyebarannya. Karena ya memang itu poin pentingnya. Jaga kesehatan itu dimulai dari jaga kebersihan.

Pesan selanjutnya adalah menyiapkan semua dokumen penting di cloud atau internet dan membuat asuransi kesehatan, minimal BPJS. Nggak hanya buat ding, jangan lupa untuk membayar iuran BPJSnya juga tiap bulan. Bukan karena kita sehat dan merasa jika sudah bayar dan sayang jika tidak dipakai, tapi karena asuransi kesehatan itu adalah bagian dari manajemen resiko. Dalam kasusku, saat itu kondisinya bisnisku stop = tidak ada pemasukan, mas Obi juga belum gajian dan THR belum turun. Jika di IGD aku dipaksa berpikir untuk bagaimana mencari uang untuk menutup biaya rawat inapku, tentu aku akan lebih stress dan mending nggak masuk rumah sakit deh hahaha. Kondisi itu bisa memperparah penyakitku karena lebih lama penanganannya. Jadi #terimakasihBPJS :)

Sekarang, aku mulai mempertimbangkan memiliki asuransi kesehatan tambahan diluar BPJS. Apakah teman-teman ada rekomendasi? 

Salam, 
Bu Obi. 

Senin, 27 April 2020

Mempersiapkan CV dan Motivation Letter untuk Studi Lanjut di Luar Negeri (S2 dan S3)



Assalamu'alaikum
Halo, semua!
Apa kabar? 

Disclaimer: Semua yang tertulis di sini berdasarkan pada pengalaman pribadi dan hasil diskusi dengan kawan.

Pada 21 April 2020 kemarin, saya diajak kolaborasi oleh teman baru, Aji Nusantara dan Anggita Mega Mentari dari @scholarsconnect, sebuah platform sharing dan berbagi tentang studi ke luar negeri. Pada kesempatan diskusi tersebut, saya berbagi tentang mempersiapkan CV dan Motivation Letter untuk aplikasi studi lanjut. 

Saya pikir, kenapa tidak kemudian membagikan materi tersebut di blog saya juga. Toh saya belum pernah menuliskannya, jadi kesempatan kali ini saya akan menuliskan tentang pengalaman saya menulis Curriculum Vitae (CV) dan Motivation Letter untuk aplikasi studi lanjut S2 dan S3. 

CV dan Motivation Letter adalah dokumen-dokumen yang umum dilampirkan ketika ingin mendaftar sekolah lanjut. Kita bahas satu per satu ya, 

Curriculum vitae
Seperti melamar pekerjaan, aplikasi sekolah juga membutuhkan curriculum vitae/resume diri kita. CV adalah rangkuman yang mendeskripsikan diri kita dengan padat dan jelas. Sehingga jumlah halaman CV sebaiknya tidak terlalu panjang, maksimal 2 halaman. Pada CV, pastikan menulis semua riwayat berdasarkan urutan dari yang paling baru. CV adalah deskripsi diri, sehingga pastikan bahwa CV adalah orisinil dan tidak dibuat-buat. Poin-poin yang akan dibahas nanti, tidak harus semua dipenuhi/dituliskan di CV teman-teman, jika memang belum memiliki pengalaman di poin tersebut.

Sekarang, saatnya membedah apa saja isi CV yang pernah saya buat: 
-   Data diri.
Data diri yang paling penting adalah nama lengkap, alamat email yang sering kita pakai dan nomor HP yang bisa dihubungi. Usahakan menggunakan alamat email yang formal, ya. 

-   Riwayat pendidikan.
Tuliskan nama universitas, negara universitas, jenjang pendidikan (phd/master/bachelor), tahun pendidikan, GPA atau IPK dan topik riset yang diambil saat pendidikan tersebut.

-   Riwayat pekerjaan.
Pastikan untuk menulis posisi pekerjaan, nama instansi, tanggung jawab kalian di posisi tersebut dan durasi lamanya pekerjaan. Jika belum pernah bekerja, bisa tuliskan pengalaman magang/internship di perusahaan.

-   Pengalaman penelitian.
    Untuk aplikasi S3 yang menuntut untuk memiliki pengalaman penelitian, silahkan tuliskan pengalaman saat menjadi peneliti. Akan lebih baik jika bisa linier dengan topik riset S3 yang akan didaftar. 

-   Riwayat Publikasi
   Jika teman-teman sudah pernah melakukan publikasi di jurnal terakreditasi, maka bisa dituliskan juga di CV. Hal ini sangat baik karena S3 atau PhD akan melakukan penelitian secara penuh selama masa studi (namun ada beberapa S3 yang mengambil kelas di tahun-tahun awal). Maka publikasi ini akan sangat membantu supervisor untuk melirik dan mempertimbangkan kita di proyek penelitian atau mempertimbangkan kita menjadi mahasiswa bimbingannya. 

-   Penghargaan.
   Di bagian ini, kita bisa menuliskan beasiswa yang diterima saat s1 maupun s2, award ketika menjadi mahasiswa maupun ketika bekerja. 

-   Skill/ kemampuan.
   Bagian ini adalah pelengkap dari CV kita. Kita bisa menuliskan hard skillmaupun soft skill kita.Hard skillcontohnya kemampuan kita mengoperasikan software statistika, atau analisis data. Sedangkan soft skills contohnya adalah kemampuan komunikasi, kemampuan memimpin, public speakingdan lain sebagainya.

-   Referensi. 
   Di bagian ini, kita memasukkan nama dan nomor atau email dari orang-orang yang bisa menjadi referensi. Fungsi dari bagian referensi adalah supervisor/pihak universitas dapat menanyakan tentang etos kerja kita kepada referensi tersebut. Sebelum memasukkan nama, kita harus meminta izin terlebih dahulu dengan orang tersebut. Nama-nama di referensi ini bisa rekan kerja, atasan, atau supervisor saat S1/S2 dahulu. Jumlah referensi sebaiknya 2 hingga 4 orang.

Motivation Letter.
Motivation letter (motlet) adalah surat kepada pihak Universitas/supervisor/penyelenggara beasiswa yang isinya mengenai diri kita, motivasi mendaftar dan mengikuti program studi tersebut. Jumlah halaman motlet cukup singkat, tidak lebih dari 1,5 halaman. Hal ini dikarenakan jumlah aplikan yang mendaftar pasti banyak sekali. Kita ingin meyakinkan dengan singkat dan padat bahwa kita sesuai dengan posisi yang mereka cari. Bentuk motlet adalah paragraf panjang. Setiap paragraf harus saling berkesinambungan dan usahakan menulis hanya pengalaman yang berkaitan dengan topik riset/program studi yang kita tuju.

Urutan menulis motlet yang pernah saya tulis:
- Tujuan menulis motlet.
Tuliskan mengapa kita menulis motlet. Contoh: I am writing this letter to apply for a Ph.D. position in the “(topik penelitian)” project atau I am writing this letter to apply (program studi) in (Universitas). Kita perlu menuliskan ini dengan singkat di awal, agar jelas bahwa motlet ini untuk sebuah program yang studi yang kita daftar.

- Perkenalan singkat diri kita dan background. 
Tuliskan secara singkat nama, pekerjaan sekarang dan pendidikan sebelumnya. 

- Pengalaman penelitian/pekerjaan.
Ceritakan kenapa kalian tertarik dengan topik/program studi tersebut, bagaimana pengalaman sebelumnya berkaitan dengan topik/prodi yang dituju dan hardskill yang didapat saat penelitian/pekerjaan.

- Penghargaan.
Ceritakan secara singkat penghargaan yang pernah didapat bersama dengan hardskill yang dipelajari selama proses mendapatkan penghargaan tersebut.

- Pengalaman lain yang menonjol dan menguatkan kemampuan softskill kita.
Setelah sebelumnya membahas tentang kemampuan hardskill, luangkan satu paragraf yang menunjukkan bahwa kita memiliki softskillseperti kemampuan bekerja dalam tim dan komunikasi. 

- Motivasi mengikuti program studi/riset, penjelasan harapan kita terhadap riset tersebut, dan apa yang akan kita lakukan setelah riset. 
Di bagian terakhir, baru kita tuliskan alasan mengikuti program studi tersebut, bisa karena peringkat Universitas baik atau topik riset terkait dengan interest. Harapan dan ekspektasi kita terhadap riset tersebut. Dan karir/hal yang akan kita lakukan setelah lulus dari program studi tersebut. 

- Penutup
Ucapkan terimakasih sebagai apresiasi karena Universitas/supervisor sudah meluangkan waktu membaca motlet kita. Tutup dengan salam dan nama kita. 

Sekian tulisan saya mengenai pengalaman dan tips menulis CV dan motivation letter untuk aplikasi S2 dan S3. Untuk pertanyaan, silakan email ke: mochammad.fahmi.h@mail.ugm.ac.id. Semoga bermanfaat. 

Salam, 

Fahmi Obi.