Halo, semua!
Apa kabar?
Sudah hampir 2 bulan ini ya nggak terasa kita sudah #dirumahsaja karena Covid-19. Apakah sudah mulai bosan? Kalau aku malah udah mulai cuek ya. Kaya “yaudahlah di rumah happy aja ternyata. (Soalnya mas Obi juga work from home, kalau dia kerja kudu ke kampus sih ya aku malas juga di rumah aja sendiri ngapain hahahaha)”
Karena penasaran dan beberapa kali berita dan artikel tentang penyakit Corona ini berseliweran, akhirnya mau nggak mau baca juga lah ya kita tentang penyakit baru ini. Salah satu yang aku baca, katanya Corona ini adalah virus yang menyerang paru, mirip dengan penyakit pneumonia. Langsung kaget dong! Keinget setahun lalu untuk pertama kalinya aku harus rawat inap di Rumah Sakit karena penyakit pneumonia juga. Setelah discharge dari rumah sakit, sempet janji untuk nulis pengalaman sakit itu yang dicover oleh BPJS. Maka jadilah aku tergerak untuk menulis ini, satu tahun kemudian hahaha.
-----
Mei 2019.
Bulan ini adalah bulan Ramadhan pertama bagi keluarga kecil kami. Jujur saja sebagai orang yang overthinking dan planner macam aku, memikirkan menu sahur dan berbuka ini lumayan menantang dan bikin stress. Belum lagi kekhawatiran jika tidak bangun maka alamat suami juga otomatis tidak sahur. Stress sekali rasanya. Ditambah, 2 bulan setelahnya kami harus pindah dari rumah yang kami tempati. Memikirkan dan membayangkan kemana harus pindah itu membuat stress yang amat sangat.
Beberapa hari di awal Mei aku mulai batuk berdahak. Tapi karena tidak mengganggu dan frekuensinya tidak sering, aku abaikan. Aku pikir karena ya musim batuk aja gitu. Ternyata aku salah.
24 Mei 2019.
Setelah berbuka puasa, aku mandi dan siap-siap tarawih. Ternyata aku menstruasi! Langsung bahagia gitu, bebersih diri sambil membayangkan “hore, besok bisa makan siang pake nasi padang!” – para wanita pasti tahu perasaan ini saat datang bulan di bulan Ramadhan. Setelah mandi, kami siap-siap untuk tarawih di Masjid Gede Jogja. Memang sengaja untuk mencoba tarawih keliling masjid di Jogja. Aku? Aku hanya duduk saja di shaf belakang karena baru saja halangan. Malam itu angin berhembus lumayan kencang dan aku tidak pakai jaket.
Kembalinya ke rumah, aku merasa tidak enak badan. Kepalaku berputar hebat dan badan rasanya gembreges. Bahkan untuk berdiri saja nggak sanggup. Mas Obi kemudian menyuapi aku makan lauk sop dan ayam yang untungnya sudah sempat aku masak sebelum musibah itu.
Sayangnya, aku juga tidak nafsu makan. Rasanya mual juga. Meski aku tahu masakanku biasa saja sih, tapi biasanya aku lahap-lahap saja kalau makan. Aku paksa untuk makan sedikit lagi dengan kondisi mata tertutup agar tidak terlalu mual dan aku akhiri dengan minum Biogesic, obat andalan kalau lagi pusing dan demam.
 |
| Sempat mendokumentasikan suasana tarawih di Masjid Gede Jogja |
Keesokan harinya.
Pagi itu aku merasa sudah agak baikan dan bisa menyiapkan sahur untuk mas Obi. Menemani dia untuk sahur juga. Mas Obi pun ke kampus seperti biasa. Aku juga beraktivitas di rumah seperti biasa.
Seharian aku paksa untuk makan, minum obat, dan tidur. Tapi ternyata suhu badan panas luar biasa dan pusingnya semakin menjadi-jadi. Aku telfon mas Obi agar pulang lebih awal karena ke kamar mandi pun lemas sekali rasanya.
Setelah mas Obi berbuka, aku meminta untuk diantar ke Kimia Farma untuk berobat karena rasanya tidak sanggup lagi. Kami pesan grabcar malam itu dan perjalanan ke Kimia Farma. Apotek itu dipilih karena itu adalah letak praktik dokter yang paling dekat dengan rumah kami.
Di Kimia Farma, kami harus menunggu satu jam karena dokternya masih buka bersama (aduh!). Karena pusing dan demam tinggi, akhirnya aku tiduran di kursi tunggu sambil dipijat tangannya sama mas Obi. Jam setengah 8 malam, datanglah si dokter. Syukur kami antrian pertama jadi langsung masuk. Aku ingat sekali malam itu ditensi dan hasilnya cukup rendah. Di cek suhu juga dan hasilnya 39. Dokter menyarankan untuk malam ini ke IGD minta diinfus karena nadiku cepat dan tensi sangat rendah. Dia juga menyarankan untuk menunggu 3 hari jika demam tidak membaik segera ke Rumah Sakit untuk cek darah, diagnosa dokter bisa jadi DBD. Dokter memberikan obat sanmol forte untuk menurunkan panas, vometa untuk mengurangi mual muntah dan satu lagi obat saya lupa sih obat apa.
Kembali ke rumah, kami putuskan untuk pindah ke kamar bawah karena aku kedinginan (no AC sepanjang malam plus 2 lapis selimut) dan biar bolak-balik dapur dan kamar mandi dekat. Malam itu sesekali aku terbangun, muntah dan haus sekali rasanya.
26 Mei 2019.
Hari itu mas Obi izin tidak berangkat ke kampus karena pagi itu aku masih demam meski sebenarnya sudah tidak pusing lagi. Hari itu aku merasa seperti Flash di film Zootopia, lemah dan semua yang kulakukan rasanya ada di mode slowmotion. Makan sedikit saja, muntah.
Kami sudah sepakat jika sampai nanti sore tidak membaik, besok ambil darah di Rumah Sakit JIH Jogja. Siangnya, aku konsultasi ke beberapa teman dokter via whatsapp. Seorang teman malah bercanda “jangan-jangan kamu hamil, Zid?”. Ya gimana ceritanya jelas-jelas lagi dapet kok -_-. Ternyata sampai malam, demamku tak kunjung turun. Kami sudah menyiapkan rencana besok pagi-pagi ke rumah sakit JIH.
27 Mei.
Pagi ini badanku semakin tidak karuan. Selain demam, mual, muntah, pusing, dan lemas pagi ini ditambah badannya linu sekali. Jam 7 pagi aku buat reservasi ke dokter umum JIH via SMS. Wow ini sangat membantu sekali sih. Nggak kebayang kalau adegan Kimia Farma terulang kembali yang harus tiduran di ruang tunggu huhu.
Jam 8 pagi kami berangkat ke JIH, di perjalanan aku memberi kabar ke orang tua kalau aku ke JIH dan jika harus opname, aku akan opname di JIH. Orang tua kemudian menawarkan jika harus opname lebih baik di Solo karena akan lebih banyak orang yang bergantian jaga. Kasian juga mas Obi kalau harus sendirian jaga sedangkan harus berangkat kerja juga. Disini aku sedih juga sih, kenapa merepotkan orang tua. Tapi ya ada benarnya juga.
Di JIH, antri dan cek tensi. Tensiku masih rendah tapi suhu tubuh sudah turun ke 37 koma sekian. Di ruang konsultasi ketemu dokter yang cantik amat sampai salah fokus haha. Namanya dr. Martian Filosofia. Dokter menyarankan untuk diambil darahnya dulu.
Ini nih yang paling aku takutkan. Anaknya lemah sekali sama jarum-jaruman. Hampir tiap suntik apapun, vaksin meningitis, influenza, apa aja lah you name it, pasti aku nangis. Disini aku sudah siap-siap tissue jika nangis nih hahaha. Ternyataaa.. mbaknya yang ambil darah jago banget asli! Jarum pertama memang nggak berhasil, di jarum kedua dia berhasil sambil bilang “wah, mbak ini venanya kecil sekali ya. Saya jadi harus pakai jarum anak”. Disitu baru aku menyadari bahwa selama ini sakit karena ya jarumnya ‘kebesaran’ buat aku. Udah tuh, udah selesai ambil darahnya, diminta menunggu sebentar lalu kembali ke dokter Fia untuk dikonsultasikan.
Keluar dari ruang ambil darah, ternyata orang tua dan adekku sudah sampai Jogja. Huhu langsung peluk mereka sambil nahan nangis banget. Merasa bersalah karena nyusahin tapi seneng karena diperhatikan. Kembali ke ruang dokter, kata dr Fia, trombositku ada di batas atas. Katanya lebih baik diambil darah lagi besok pagi untuk dicek.
Keluar ruangan, ternyata bapak sudah telfon temennya yang spesialis penyakit dalam di Solo tentang kondisiku. Katanya jika trombosit masih baik, lebih baik dicek langsung. Khawatir tipes atau penyakit lain. Oke deh nurut. Setelah ambil obat dan bayar-bayar, aku langsung kembali ke rumah dan siap-siap untuk dibawa ke rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo. Disini nih bagian paling sedih. Harus pisah sebentar sama mas Obi karena dia akan tetap tinggal di Jogja untuk bekerja dan aku harus di rumah biar ada yang merawat.
Jam 14.00 kami sampai di RS PKU Muhammadiyah Solo dan kami bertemu dr. Arifin, Sp. Pd, KIC, Finasim. Bagian paling lucu dari konsultasi ini adalah dokternya selow banget. Sambil ketawa-tawa dia tanya bagian mana dan tanda apa saja aku sakit. Aku serahkan juga kertas hasil lab di JIH Jogja. Katanya “Bukan DB ini. Tipes juga nggak. Saya malah curiga dengan batuknya”.
Kaget luar biasa! Memang sejak awal Mei aku batuk, tapi aku merasa batuk tidak akan menjadi masalah sebesar ini. “Ini nafasnya beda. Saya kasih antibiotik ya. Statusnya opname di rumah aja. Telfon saya kalau kenapa-napa” ujar dokter sambil mengarahkan stetoskopnya ke dadaku. Aku masih merasa heran, bagaimana bisa aku batuk sampai selemas, pusing, demam dan drama seperti kemarin?
Aku pulang dari RS dengan masih bingung tapi lega. Alhamdulillah bukan sakit yang serius, pikirku saat itu.
28 Mei 2019.
Siang itu sangat ajaib! Aku sudah bisa berdiri dan jalan-jalan di rumah. Makan bubur juga sudah oke dan tidak lagi muntah. Aku saat itu benar-benar berpikir apa mungkin aku stress saja, sakit psikosomatis bahasanya. Itu hanya pikiranku saja yang bikin aku lemah kemarin. Sebenernya aku nggak papa kok.
Hingga malam itu, jam 8 malam. Aku kembali demam tinggi, badan rasanya linu dan lebih lemas dari sebelumnya. Aku kedinginan dan ingin meraih remote AC, tapi bahkan tidak sanggup. Nafasku pendek-pendek, keringat dingin dan ketika aku ingin memanggil orang tua ku untuk minta tolong, tidak ada suara yang keluar.
Orang tua ku saat itu tengah makan malam berbuka puasa ketika aku terdampar di sofa ruang tamu. Rencananya sih mau jalan ke ruang makan memanggil mereka, tapi baru sampai sofa ruang tamu juga sudah tak kuasa hahaha. Ibuk kemudian mendapati aku dan langsung teriak memanggil bapak. Bapak langsung telfon dr. Arifin untuk bisa datang ke kliniknya. Tanpa babibu, langsung diminta kesana. Saat itu juga aku dipakaikan jilbab dan langsung dibopong masuk ke dalam mobil.
Sampai di klinik, aku sudah tidak sanggup berdiri. Rasanya kaya hewan tanpa tulang belakang gitu lho. Nggak ada tulang yang bisa digerakkan hahahaha. Akhirnya dr. Arifin keluar dan memeriksa aku di dalam mobil. Nggak ada 1 menit setelah dr. Arifin menempelkan stetoskopnya, beliau langsung bilang “langsung PKU aja, Pak. Masuk IGD, bilang kiriman dr. Arifin”. Langsung setelah itu, aku dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Solo.
Perjalanan harusnya hanya 20 menit ya dari klinik dr. Arifin yang kebetulan di dekat rumahku ke RS PKU Muhammadiyah, tapi rasanya sungguh lama sekali. Di dalam mobil, aku dipijat Ibu sambil Ibu mengucap istighfar yang banyak. Aku juga sesekali muntah di plastik yang ibu pegang. 10 menit berikutnya aku hanya merasakan pusing, mual, nafasku semakin pendek-pendek dan pandanganku sudah kabur. Gelap rasanya. Aku hanya bisa merasakan tepukan Ibuk di pipi. Tapi sudah tidak bisa jelas melihat sekeliling dan sampai mana perjalanan itu.
Aku juga bisa mendengar mobil dibuka dan percakapan perawat IGD dengan bapak ibukku. “Ini yang sakit mana, Bu? Bukan patah kan? Bisa saya gendong tidak?” kata perawatnya. “Wah aku sudah sampai. Sabar Zid, sedikit lagi” kataku menguatkan diri. Saat digendong perawat untuk dipindah ke kasur dorong IGD, aku juga tidak bisa melihat sekeliling, aku tidak bisa lihat wajah perawatnya, atau bapak ibukku, atau berapa banyak orang di sekitar. Meski aku tahu IGD itu terang sekali dan cahaya putih lampunya nampak meski aku tidak bisa melihat yang lain.
Di kasur IGD, aku tidak langsung diberi infus. Bapak ibuku dimintai keterangan tentang namaku, tanggal lahir, dokter yang mengirim, riwayat penyakit dan kartu BPJS. Sungguh beruntung, meski semua dompet, HP dan identitas diriku tertinggal di rumah. Ternyata Bapak punya scan semua identitas kami sekeluarga di online cloudnya. Lengkap dengan kartu BPJS kami. Alhamdulillah.
Setelah clear biaya dan kartu BPJSnya, aku kemudian bisa diproses oleh dokter jaga dan perawat jaga di IGD untuk dipasangi infus dan dicarikan kamar. Disini aku baru merasa pentingnya menyimpan semua dokumen penting di cloud, teman-teman. Sungguh tidak terbayang jika Bapak tidak pernah scan kartu-kartu kami dan tidak menyimpannya di internet. Masak iya harus balik lagi ke rumah untuk cari semua kartu-kartu itu -_-.
Saat dipasangi infus, aku bisa merasakan linu yang cukup lama. Perasaanku sih ibu perawatnya pakai jarum dewasa nih. Soalnya aku sempat lihat darahnya kemana-mana dan di lap tissue sama si ibu perawat. Sambil ketawa nahan sakit aku bilang “Bu, pakai jarum anak ya. Vena saya kecil”. Setelah diganti jarum, baru deh berhasil infusnya terpasang. Ibu saya tertawa dan bilang “badanmu kecil sampai se vena-venanya juga kecil ternyata”. Di situ aku bisa melihat ibu saya matanya merah, yakin 100% sejak awal sampai sepanjang jalan ke IGD pasti ibuku nangis. Kasian :(
Jam 23 aku dipindah ke kamar VIP dengan kursi roda. Ternyata penentuan kamar ini juga berdasarkan kartu BPJSku. Karena BPJSku kelas 3, maka seharusnya aku dapat kamar kelas 3. Jika ingin upgrade ke VIP, maka tinggal bayar perbedaan harganya saja. Hal ini juga langsung clear karena usaha keluargaku ada kerjasama dengan RS PKU Muhammadiyah Solo. Jadi semua bill akan ditagihkan ke bendahara perusahaan.
Aku kemudian ditempatkan di lantai 4 gedung baru di kamar VIP apa ya namanya lupa. Kamarnya lumayan luas dengan satu sofa penunggu, TV, AC, kamar mandi ya standar kamar rumah sakit lah. Perawatnya juga baik sekali yang shift malam itu. Karena merasa sudah secure dan ditangani oleh orang yang paham, aku memaksakan diri untuk tidur.
 |
Foto yang diambil buat dikirim ke mas Obi. Pertama kali ngabarin kalau resmi harus rawat inap.
Pas ini sama sekali nggak ngerti kenapa aku sampai begitu dan harus rawat inap |
29 Mei.
Pagi itu aku sudah jauh lebih baik. Suhu tubuh sudah normal, pusing juga sudah tidak. Tetapi aku diinfo akan rontgenjam 8 pagi untuk tahu hubungan batuk dengan semua gejala-gejala yang aku alami.
Rontgen berjalan lancar, seperti pada umumnya. Diminta untuk mengganti baju dengan baju khusus rontgent serta kalung dan bra diminta untuk dilepas. Saat itu mataku pedas sekali. Pengennya segera kembali ke kamar dan tidur.
Sorenya dokter Arifin visit dan menanyakan keadaanku. Yang kuingat, semua obat disuntikkan lewat infus. Hanya ada satu dua obat yang diminum secara oral. Sehingga total ada 6 obat yang dimasukkan ke tubuhku. Sayangnya, aku lupa menanyakan hasil rontgentku sore itu karena dokternya selow sekali. Malah menanyakan keberadaan suamiku dan basa-basi yang lain.
Hari ketiga di Rumah Sakit.
Jujur saja, aku tidak tahu aku sakit apa sampai hari ketiga di rumah sakit. Saat itu mas Obi datang ke rumah sakit dan lewat nurse station. Secara tidak sengaja mas Obi dengar perawat itu membahas “kamar nomor VIP C sakit apa sih?” dan yang lain menjawab “paru-paru”. Dari situ aku baru tahu bahwa aku benar-benar sakit, bukan karena psikosomatis, dan ternyata karena infeksi pada paru-paruku. Bahasa ilmiahnya adalah bronchopneumonia. Dari situ kemudian aku belajar bahwa infeksi paru itu sebenarnya paling besar resikonya pada orang tua diatas 65 tahun dan peminum alkohol.
Jelas aku bukan termasuk kedua bagian itu, lalu kenapa? Kemungkinan besar adalah karena aku berkendara dengan motor dan jarang sekali menggunakan masker. Bisa juga karena tetangga sempat sangat intens bakar-bakar sampah di dekat rumah. Atau bisa juga karena bakteri dari sekitaran dan aku tidak mencuci tangan setelah memegang sesuatu (yang mungkin saja mengandung bakteri tersebut) kemudian aku menyentuh hidung atau muka.
 |
Niat banget bawa segepok skincare dan pake di bed.
Pokoknya meski sakit paru-paru, muka tep harus glowing hahahaha |
Hari keluar dari rumah sakit.
Setelah 4 hari di rumah sakit, hari itu hari ke 22 puasa Ramadhan, aku dinyatakan boleh pulang oleh dokter Arifin. Senang sekali rasanya. Sudah bosan di rumah sakit dan ingin lebaran di rumah.
Sebelum keluar dari rumah sakit, seperti biasa seluruh urusan administrasi sudah harus kelar. Sungguh alhamdulillah, aku dan keluarga merasa sangat terbantu dengan adanya BPJS. Aku dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit dengan membayar 0 rupiah!! – Ps: biaya upgrade kamar ditagihkan ke perusahaan keluarga.
----
Pengalaman pribadi yang panjang sekali dalam cerita ini akhirnya sampai pada sebuah pesan yaitu: rajin cuci tangan dan pakai masker jika keluar rumah (apalagi berkendara dengan motor). Pesan itu juga yang di masa Covid-19 ini digaung-gaungkan bisa mengurangi resiko penyebarannya. Karena ya memang itu poin pentingnya. Jaga kesehatan itu dimulai dari jaga kebersihan.
Pesan selanjutnya adalah menyiapkan semua dokumen penting di cloud atau internet dan membuat asuransi kesehatan, minimal BPJS. Nggak hanya buat ding, jangan lupa untuk membayar iuran BPJSnya juga tiap bulan. Bukan karena kita sehat dan merasa jika sudah bayar dan sayang jika tidak dipakai, tapi karena asuransi kesehatan itu adalah bagian dari manajemen resiko. Dalam kasusku, saat itu kondisinya bisnisku stop = tidak ada pemasukan, mas Obi juga belum gajian dan THR belum turun. Jika di IGD aku dipaksa berpikir untuk bagaimana mencari uang untuk menutup biaya rawat inapku, tentu aku akan lebih stress dan mending nggak masuk rumah sakit deh hahaha. Kondisi itu bisa memperparah penyakitku karena lebih lama penanganannya. Jadi #terimakasihBPJS :)
Sekarang, aku mulai mempertimbangkan memiliki asuransi kesehatan tambahan diluar BPJS. Apakah teman-teman ada rekomendasi?
Salam,
Bu Obi.