Tampilkan postingan dengan label Bu Obi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bu Obi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2020

Catatan pernikahan tahun pertama

Pagi ini aku terbangun dengan kebingungan yang sama. Kebingungan yang sudah aku hadapi hampir satu tahun belakangan ini. Tentang makna keberadaanku. Tentang harapan dan mimpiku. Dan tentang kejutan-kejutan Allah dalam hidup. 

Sudah hampir 2 tahun aku menjadi seorang istri dari pria pilihanku. Ketika seseorang berkata bahwa menikah adalah ibadah paling panjang dan sulit, aku sungguh percaya. Tidak, bukan aku menyesali untuk menikah, hanya adaptasinya yang memang sangat menantang bahkan dari bulan pertama pernikahan.

Hidup adalah serangkaian adaptasi perubahan. Kita semua pernah menjalani hidup sebagai anak sekolah dasar yang kegiatannya hanya bermain dan sesekali belajar. Konflik hidup yang dialami juga berkisar pada berebut mainan atau cemburu pada adik karena merasa lebih disayang daripada kita. Lalu semua berubah ketika sekolah menengah, hidup tak lagi bisa ‘dinikmati’ sebagai permainan. Kita sudah harus mulai fokus pada pelajaran meski mulai juga merasakan konflik batin karena tertarik dengan lawan jenis teman sepermainan. 

Begitupun di dunia orang dewasa. Kadang aku merutuki ketidakmampuanku untuk easy-adaptdengan perubahan besar yang sedari awal sudah aku setujui terms and conditions-nya. 

Ketika seorang pribadi yang dibesarkan dari keluarga yang memiliki waktu bersama yang banyak. Yang dibesarkan oleh orangtua yang berprofesi wirausaha harus melihat suaminya pergi setiap hari pukul 8 sampai 5 untuk bekerja, hatiku sepi sekali. Seperti ditinggalkan. Lucu memang, bagaimana lingkungan keluarga saat usia dini bisa sangat berpengaruh pada kebutuhan emosional saat dewasa. Seringnya, di akhir pekan sekeluarga biasa keluar kota atau sekedar makan di restoran keluarga di kota kami. Sedangkan ketika menikah, suami bekerja sebagai pekerja yang sangat ketat terhadap waktu bahkan seringnya menghabiskan akhir pekan di tempat kerja. Satu adaptasi yang bahkan hingga hampir ulang tahun pernikahan kedua, aku belum menemukan jawaban atas kegetiran dan kekosongannya.

Kekosongan itu yang kemudian membuatku sering merindukan orang tua dan adik-adikku. Ternyata meski hati penuh cinta pada suami, tetap ada ruang di hati yang merindukan keluarga dan semua waktu-waktu yang biasa kami habiskan bersama. Pernah suatu hari, aku sudah sangat lelah dan ingin berlibur ke negeri Kanguru. Mengunjungi tempat kuliahku dulu sambil berjalan-jalan dan menikmati suasana yang aku rindukan. Ditambah kondisiku saat itu sudah sangat penat dan sangat butuh menghibur diri. Kusampaikan ajakanku pada orang tua. Mereka menyambut dengan senang ajakanku. Hanya saja, syarat dari mereka lumayan menyebalkan menurutku. Syaratnya adalah suamiku juga harus bisa ikut berlibur. Padahal jelas tidak mungkin aku mengajak suami untuk berlibur selama satu minggu. Bukan, bukan tentang uangnya. Tapi tentang izin cuti pada atasannya. Akhirnya rencana dan harapanku pupus sebelum berkembang. Lagi, aku menyalahkan pilihan pekerjaan suami yang tidak fleksibel dan kembali membandingkan dengan pekerjaan orang tuaku. Lagi, tanda aku belum berhasil adaptasi dengan perubahan.

Suatu waktu, kami harus meninggalkan rumah yang kami tempati. Memang sedari awal kami sudah berjanji akan menempati rumah tersebut dalam periode waktu tertentu. Rencananya tempat tersebut hanya menjadi ‘transit’ sebelum kami pergi ke negara lain untuk menempuh studi lanjut. Ternyata Tuhan lebih senang memberikan ujian dahulu sebelum nantinya diberikan kejutan dan hadiah-Nya. Malam itu, kami menangisi berantakannya rencana manusia karena kealpaan kami. Karenanya, kami harus meninggalkan tempat tinggal kami dan membuat rencana baru. 

Mengevaluasi dan menulis ulang rencana ternyata tidak semudah teori di buku manajemen strategi. Apalagi jika rencana ini bukan rencana organisasi yang tidak memiliki nyawa dan perasaan. Kami mengisi hari-hari membuat ulang rencana dengan saling menguatkan satu sama lain. Hingga akhirnya jatuh pilihan untuk melanjutkan hidup sebagai pasangan yang long distance marriage. Aku melanjutkan hidupku di Solo sebagai analis UMKM di usaha milik orang tua dan suami melakukan pekerjaannya di Jogja. 

Sungguh, jika kalian yang membaca ini memiliki rencana menikah dan akan LDM, aku sarankan untuk dipikirkan ulang rencana tersebut. Meski dengan kemudahan teknologi dan kepercayaan, ternyata pernikahan juga membutuhkan lekatan kasih sayang yang teknologi tak bisa membantu menyampaikannya.

Setelah kami rasa cukup 3 bulan menjalani hidup sebagai pasangan LDM, kami kemudian mengakhiri itu dan memutuskan untuk mencari kos pasutri. Iya, kalian tidak salah baca. Kami memutuskan untuk meneruskan hidup di kos pasutri.

Aku tertawa getir, hidup adalah serangkaian roller coaster. Kadang Allah beri titipan tempat tinggal nyaman dan luas. Dan dalam sekali waktu, Allah balikkan dan titipkan kita di tempat yang bahkan bukan milik kita seukuran 3x3m. Sepertinya Tuhan sedang menegur atas kelalaian kami untuk bersyukur dengan apa yang Dia beri sebelumnya. Pertimbangannya lagi, karena dalam rencana kami, ini hanyalah tempat sementara karena keberangkatan kami sudah dekat. Di sepetak kamar itu, aku banyak menulis dan membaca.  Mengikuti kelas Bahasa baru demi memberi makan ego-ku untuk berkembang. Kembali beradaptasi terhadap perubahan yang sangat signifikan dalam hidup. Sambil beberapa kali dalam seminggu pulang ke rumah orang tua untuk melaksanakan pekerjaanku.

Pernah suatu waktu aku menawarkan suami agar mau memakai tabungan pribadiku untuk membeli rumah kecil di pinggir kota Sleman. “Toh, aku menabung juga memang untuk kehidupanku dan keluarga yang sedang kujalani ini juga” – pikirku. Tapi sungguh, memilih pria bertanggung jawab sebagai kriteria nomor satu sebagai suami memanglah sepenting itu. Sambil melihatku, suamiku menjawab hangat bahwa uang dan harta yang aku miliki sebelum menikah adalah milikku sendiri. Dia merasa tidak memiliki hak atas kepemilikan dan tabungan yang aku kumpulkan seorang diri. Katanya lagi, jika aku memang ingin membantu keuangan rumah tangga, maka itu sebagai hadiah dan pemberianku kepada keluarga. Baginya, adalah kewajibannya sebagai suami untuk memberikan pangan, sandang dan papan yang terbaik bagi keluarga.

Beberapa waktu aku terdiam. Memikirkan apa yang sebenarnya sudah aku lakukan di masa lalu sehingga Allah beri hadiah sedemikian besar berupa suami yang bertanggung jawab dan menghargai istri? Lagi, sepertinya Tuhan sedang mengingatkan untuk meninggikan syukur diatas setiap keluhan.
Secara agama, semestinya istri selalu hormat dan sayang pada suami. Namun secara psikologis, ada masa-masa dimana aku mulai mempertanyakan ketidakmampuan suami dalam beberapa hal. Saat itu, mungkin aku lupa bahwa semua manusia pasti ada kekurangannya. Ketika aku mencintai kelebihan suamiku, maka aku juga harus menerima kekurangan yang dibawa bersamanya. Lagi, hal ini butuh adaptasi dan kebesaran hati yang luas. Aku masih sangat perlu belajar untuk itu dan sangat berterimakasih pada suamiku atas kesabarannya menghadapiku.

Jika pernikahan diibaratkan sebagai pesawat terbang, maka suami adalah pilot dan istri adalah co-pilotnya. Meski bagi penumpang, pilot hanya berkomunikasi beberapa patah kata tentang kondisi pesawat, tapi tidak di dalam kokpitnya. Selalu ada diskusi dan komunikasi dengan Bahasanya sendiri tentang keadaan pesawat itu. Agama dan keimanan adalah angin yang kemudian menerbangkan pesawat itu. Sungguh, tulisan ini semata untuk menjadi catatan kami sendiri. Bahwa imam dalam rumah tangga sangatlah penting untuk beriman dan beragama. Aku membayangkan pesawat yang porak poranda karena pilotnya tak memahami cara membaca arah angin dan tak mengerti bagaimana angin akan memudahkan perjalanan pesawat tersebut.

Ini bagian terakhir yang ingin kutulis dalam catatan ini. Bagaimana menambahkan anggota baru dalam hidup kita, juga menambah banyak pertimbangan berikutnya. Memiliki mertua dan keluarga baru adalah hampir sebuah pasti jika kalian memilih untuk menikah. Hal yang kusyukuri adalah tentang keluarga suami dan keluargaku yang ternyata mirip dalam pandangan hidup. Tentang berbagi pada sesama. Tentang memandang agama sebagai dasar hidup. Tentang iman dan kepercayaan pada Tuhan bahwa Dia lah Maha Terencana. Meski pasti diantara banyaknya persamaan pasti ada satu dua atau bahkan belasan perbedaan. Lagi, disini kemampuan adaptasi diuji.

Di sore hari ini, aku menutup tulisanku. Sayangnya masih dengan kebingungan yang sama dengan saat menulis kata pertama di file ini. Tapi tak mengapa, pikirku. Biar waktu yang nanti menjawab mengapa dan mengapa yang semakin banyak kutanyakan saat menjadi dewasa. Tak apa, tak semua hal harus ada jawabnya sekarang. Selamat mengudara dengan pesawat pernikahan, Zidnie. Terimakasih suamiku, sudah mau berjuang bersama menghadapi banyaknya awan, pelangi dan badai dalam jalan hidup kita berdua. Selamat satu tahun sembilan bulan pernikahan. Semoga catatan ini kelak mengingatkan kita berdua, bahwa kita melewati banyak fase bersama. 

Yogyakarta, 16 Juni 2020.
Bu Obi.

Jumat, 15 Mei 2020

Pertama kali rawat inap: sakit Bronchopneumonia saat Ramadan

Halo, semua!
Apa kabar? 

Sudah hampir 2 bulan ini ya nggak terasa kita sudah #dirumahsaja karena Covid-19. Apakah sudah mulai bosan? Kalau aku malah udah mulai cuek ya. Kaya “yaudahlah di rumah happy aja ternyata. (Soalnya mas Obi juga work from home, kalau dia kerja kudu ke kampus sih ya aku malas juga di rumah aja sendiri ngapain hahahaha)”

Karena penasaran dan beberapa kali berita dan artikel tentang penyakit Corona ini berseliweran, akhirnya mau nggak mau baca juga lah ya kita tentang penyakit baru ini. Salah satu yang aku baca, katanya Corona ini adalah virus yang menyerang paru, mirip dengan penyakit pneumonia. Langsung kaget dong! Keinget setahun lalu untuk pertama kalinya aku harus rawat inap di Rumah Sakit karena penyakit pneumonia juga. Setelah discharge dari rumah sakit, sempet janji untuk nulis pengalaman sakit itu yang dicover oleh BPJS. Maka jadilah aku tergerak untuk menulis ini, satu tahun kemudian hahaha.

----- 

Mei 2019. 

Bulan ini adalah bulan Ramadhan pertama bagi keluarga kecil kami. Jujur saja sebagai orang yang overthinking dan planner macam aku, memikirkan menu sahur dan berbuka ini lumayan menantang dan bikin stress. Belum lagi kekhawatiran jika tidak bangun maka alamat suami juga otomatis tidak sahur. Stress sekali rasanya. Ditambah, 2 bulan setelahnya kami harus pindah dari rumah yang kami tempati. Memikirkan dan membayangkan kemana harus pindah itu membuat stress yang amat sangat. 

Beberapa hari di awal Mei aku mulai batuk berdahak. Tapi karena tidak mengganggu dan frekuensinya tidak sering, aku abaikan. Aku pikir karena ya musim batuk aja gitu. Ternyata aku salah. 

24 Mei 2019. 

Setelah berbuka puasa, aku mandi dan siap-siap tarawih. Ternyata aku menstruasi! Langsung bahagia gitu, bebersih diri sambil membayangkan “hore, besok bisa makan siang pake nasi padang!” – para wanita pasti tahu perasaan ini saat datang bulan di bulan Ramadhan. Setelah mandi, kami siap-siap untuk tarawih di Masjid Gede Jogja. Memang sengaja untuk mencoba tarawih keliling masjid di Jogja. Aku? Aku hanya duduk saja di shaf belakang karena baru saja halangan. Malam itu angin berhembus lumayan kencang dan aku tidak pakai jaket.

Kembalinya ke rumah, aku merasa tidak enak badan. Kepalaku berputar hebat dan badan rasanya gembreges. Bahkan untuk berdiri saja nggak sanggup. Mas Obi kemudian menyuapi aku makan lauk sop dan ayam yang untungnya sudah sempat aku masak sebelum musibah itu. 

Sayangnya, aku juga tidak nafsu makan. Rasanya mual juga. Meski aku tahu masakanku biasa saja sih, tapi biasanya aku lahap-lahap saja kalau makan. Aku paksa untuk makan sedikit lagi dengan kondisi mata tertutup agar tidak terlalu mual dan aku akhiri dengan minum Biogesic, obat andalan kalau lagi pusing dan demam. 

Sempat mendokumentasikan suasana tarawih di Masjid Gede Jogja
Keesokan harinya. 

Pagi itu aku merasa sudah agak baikan dan bisa menyiapkan sahur untuk mas Obi. Menemani dia untuk sahur juga. Mas Obi pun ke kampus seperti biasa. Aku juga beraktivitas di rumah seperti biasa. 

Seharian aku paksa untuk makan, minum obat, dan tidur. Tapi ternyata suhu badan panas luar biasa dan pusingnya semakin menjadi-jadi. Aku telfon mas Obi agar pulang lebih awal karena ke kamar mandi pun lemas sekali rasanya. 

Setelah mas Obi berbuka, aku meminta untuk diantar ke Kimia Farma untuk berobat karena rasanya tidak sanggup lagi. Kami pesan grabcar malam itu dan perjalanan ke Kimia Farma. Apotek itu dipilih karena itu adalah letak praktik dokter yang paling dekat dengan rumah kami. 

Di Kimia Farma, kami harus menunggu satu jam karena dokternya masih buka bersama (aduh!). Karena pusing dan demam tinggi, akhirnya aku tiduran di kursi tunggu sambil dipijat tangannya sama mas Obi. Jam setengah 8 malam, datanglah si dokter. Syukur kami antrian pertama jadi langsung masuk. Aku ingat sekali malam itu ditensi dan hasilnya cukup rendah. Di cek suhu juga dan hasilnya 39. Dokter menyarankan untuk malam ini ke IGD minta diinfus karena nadiku cepat dan tensi sangat rendah. Dia juga menyarankan untuk menunggu 3 hari jika demam tidak membaik segera ke Rumah Sakit untuk cek darah, diagnosa dokter bisa jadi DBD. Dokter memberikan obat sanmol forte untuk menurunkan panas, vometa untuk mengurangi mual muntah dan satu lagi obat saya lupa sih obat apa.

Kembali ke rumah, kami putuskan untuk pindah ke kamar bawah karena aku kedinginan (no AC sepanjang malam plus 2 lapis selimut) dan biar bolak-balik dapur dan kamar mandi dekat. Malam itu sesekali aku terbangun, muntah dan haus sekali rasanya.

26 Mei 2019. 

Hari itu mas Obi izin tidak berangkat ke kampus karena pagi itu aku masih demam meski sebenarnya sudah tidak pusing lagi. Hari itu aku merasa seperti Flash di film Zootopia, lemah dan semua yang kulakukan rasanya ada di mode slowmotion. Makan sedikit saja, muntah. 

Kami sudah sepakat jika sampai nanti sore tidak membaik, besok ambil darah di Rumah Sakit JIH Jogja. Siangnya, aku konsultasi ke beberapa teman dokter via whatsapp. Seorang teman malah bercanda “jangan-jangan kamu hamil, Zid?”. Ya gimana ceritanya jelas-jelas lagi dapet kok -_-. Ternyata sampai malam, demamku tak kunjung turun. Kami sudah menyiapkan rencana besok pagi-pagi ke rumah sakit JIH. 

27 Mei.

Pagi ini badanku semakin tidak karuan. Selain demam, mual, muntah, pusing, dan lemas pagi ini ditambah badannya linu sekali. Jam 7 pagi aku buat reservasi ke dokter umum JIH via SMS. Wow ini sangat membantu sekali sih. Nggak kebayang kalau adegan Kimia Farma terulang kembali yang harus tiduran di ruang tunggu huhu.

Jam 8 pagi kami berangkat ke JIH, di perjalanan aku memberi kabar ke orang tua kalau aku ke JIH dan jika harus opname, aku akan opname di JIH. Orang tua kemudian menawarkan jika harus opname lebih baik di Solo karena akan lebih banyak orang yang bergantian jaga. Kasian juga mas Obi kalau harus sendirian jaga sedangkan harus berangkat kerja juga. Disini aku sedih juga sih, kenapa merepotkan orang tua. Tapi ya ada benarnya juga.

Di JIH, antri dan cek tensi. Tensiku masih rendah tapi suhu tubuh sudah turun ke 37 koma sekian. Di ruang konsultasi ketemu dokter yang cantik amat sampai salah fokus haha. Namanya dr. Martian Filosofia. Dokter menyarankan untuk diambil darahnya dulu. 

Ini nih yang paling aku takutkan. Anaknya lemah sekali sama jarum-jaruman. Hampir tiap suntik apapun, vaksin meningitis, influenza, apa aja lah you name it, pasti aku nangis. Disini aku sudah siap-siap tissue jika nangis nih hahaha. Ternyataaa.. mbaknya yang ambil darah jago banget asli! Jarum pertama memang nggak berhasil, di jarum kedua dia berhasil sambil bilang “wah, mbak ini venanya kecil sekali ya. Saya jadi harus pakai jarum anak”. Disitu baru aku menyadari bahwa selama ini sakit karena ya jarumnya ‘kebesaran’ buat aku. Udah tuh, udah selesai ambil darahnya, diminta menunggu sebentar lalu kembali ke dokter Fia untuk dikonsultasikan. 

Keluar dari ruang ambil darah, ternyata orang tua dan adekku sudah sampai Jogja. Huhu langsung peluk mereka sambil nahan nangis banget. Merasa bersalah karena nyusahin tapi seneng karena diperhatikan. Kembali ke ruang dokter, kata dr Fia, trombositku ada di batas atas. Katanya lebih baik diambil darah lagi besok pagi untuk dicek. 

Keluar ruangan, ternyata bapak sudah telfon temennya yang spesialis penyakit dalam di Solo tentang kondisiku. Katanya jika trombosit masih baik, lebih baik dicek langsung. Khawatir tipes atau penyakit lain. Oke deh nurut. Setelah ambil obat dan bayar-bayar, aku langsung kembali ke rumah dan siap-siap untuk dibawa ke rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo. Disini nih bagian paling sedih. Harus pisah sebentar sama mas Obi karena dia akan tetap tinggal di Jogja untuk bekerja dan aku harus di rumah biar ada yang merawat. 

Jam 14.00 kami sampai di RS PKU Muhammadiyah Solo dan kami bertemu dr. Arifin, Sp. Pd, KIC, Finasim. Bagian paling lucu dari konsultasi ini adalah dokternya selow banget. Sambil ketawa-tawa dia tanya bagian mana dan tanda apa saja aku sakit. Aku serahkan juga kertas hasil lab di JIH Jogja. Katanya “Bukan DB ini. Tipes juga nggak. Saya malah curiga dengan batuknya”. 

Kaget luar biasa! Memang sejak awal Mei aku batuk, tapi aku merasa batuk tidak akan menjadi masalah sebesar ini. “Ini nafasnya beda. Saya kasih antibiotik ya. Statusnya opname di rumah aja. Telfon saya kalau kenapa-napa” ujar dokter sambil mengarahkan stetoskopnya ke dadaku. Aku masih merasa heran, bagaimana bisa aku batuk sampai selemas, pusing, demam dan drama seperti kemarin? 

Aku pulang dari RS dengan masih bingung tapi lega. Alhamdulillah bukan sakit yang serius, pikirku saat itu.

28 Mei 2019. 

Siang itu sangat ajaib! Aku sudah bisa berdiri dan jalan-jalan di rumah. Makan bubur juga sudah oke dan tidak lagi muntah. Aku saat itu benar-benar berpikir apa mungkin aku stress saja, sakit psikosomatis bahasanya. Itu hanya pikiranku saja yang bikin aku lemah kemarin. Sebenernya aku nggak papa kok. 

Hingga malam itu, jam 8 malam. Aku kembali demam tinggi, badan rasanya linu dan lebih lemas dari sebelumnya. Aku kedinginan dan ingin meraih remote AC, tapi bahkan tidak sanggup. Nafasku pendek-pendek, keringat dingin dan ketika aku ingin memanggil orang tua ku untuk minta tolong, tidak ada suara yang keluar. 

Orang tua ku saat itu tengah makan malam berbuka puasa ketika aku terdampar di sofa ruang tamu. Rencananya sih mau jalan ke ruang makan memanggil mereka, tapi baru sampai sofa ruang tamu juga sudah tak kuasa hahaha. Ibuk kemudian mendapati aku dan langsung teriak memanggil bapak. Bapak langsung telfon dr. Arifin untuk bisa datang ke kliniknya. Tanpa babibu, langsung diminta kesana. Saat itu juga aku dipakaikan jilbab dan langsung dibopong masuk ke dalam mobil. 

Sampai di klinik, aku sudah tidak sanggup berdiri. Rasanya kaya hewan tanpa tulang belakang gitu lho. Nggak ada tulang yang bisa digerakkan hahahaha. Akhirnya dr. Arifin keluar dan memeriksa aku di dalam mobil. Nggak ada 1 menit setelah dr. Arifin menempelkan stetoskopnya, beliau langsung bilang “langsung PKU aja, Pak. Masuk IGD, bilang kiriman dr. Arifin”. Langsung setelah itu, aku dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Solo. 

Perjalanan harusnya hanya 20 menit ya dari klinik dr. Arifin yang kebetulan di dekat rumahku ke RS PKU Muhammadiyah, tapi rasanya sungguh lama sekali. Di dalam mobil, aku dipijat Ibu sambil Ibu mengucap istighfar yang banyak. Aku juga sesekali muntah di plastik yang ibu pegang. 10 menit berikutnya aku hanya merasakan pusing, mual, nafasku semakin pendek-pendek dan pandanganku sudah kabur. Gelap rasanya. Aku hanya bisa merasakan tepukan Ibuk di pipi. Tapi sudah tidak bisa jelas melihat sekeliling dan sampai mana perjalanan itu. 

Aku juga bisa mendengar mobil dibuka dan percakapan perawat IGD dengan bapak ibukku. “Ini yang sakit mana, Bu? Bukan patah kan? Bisa saya gendong tidak?” kata perawatnya. “Wah aku sudah sampai. Sabar Zid, sedikit lagi” kataku menguatkan diri. Saat digendong perawat untuk dipindah ke kasur dorong IGD, aku juga tidak bisa melihat sekeliling, aku tidak bisa lihat wajah perawatnya, atau bapak ibukku, atau berapa banyak orang di sekitar. Meski aku tahu IGD itu terang sekali dan cahaya putih lampunya nampak meski aku tidak bisa melihat yang lain. 

Di kasur IGD, aku tidak langsung diberi infus. Bapak ibuku dimintai keterangan tentang namaku, tanggal lahir, dokter yang mengirim, riwayat penyakit dan kartu BPJS. Sungguh beruntung, meski semua dompet, HP dan identitas diriku tertinggal di rumah. Ternyata Bapak punya scan semua identitas kami sekeluarga di online cloudnya. Lengkap dengan kartu BPJS kami. Alhamdulillah. 

Setelah clear biaya dan kartu BPJSnya, aku kemudian bisa diproses oleh dokter jaga dan perawat jaga di IGD untuk dipasangi infus dan dicarikan kamar. Disini aku baru merasa pentingnya menyimpan semua dokumen penting di cloud, teman-teman. Sungguh tidak terbayang jika Bapak tidak pernah scan kartu-kartu kami dan tidak menyimpannya di internet. Masak iya harus balik lagi ke rumah untuk cari semua kartu-kartu itu -_-. 

Saat dipasangi infus, aku bisa merasakan linu yang cukup lama. Perasaanku sih ibu perawatnya pakai jarum dewasa nih. Soalnya aku sempat lihat darahnya kemana-mana dan di lap tissue sama si ibu perawat. Sambil ketawa nahan sakit aku bilang “Bu, pakai jarum anak ya. Vena saya kecil”. Setelah diganti jarum, baru deh berhasil infusnya terpasang. Ibu saya tertawa dan bilang “badanmu kecil sampai se vena-venanya juga kecil ternyata”. Di situ aku bisa melihat ibu saya matanya merah, yakin 100% sejak awal sampai sepanjang jalan ke IGD pasti ibuku nangis. Kasian :(

Jam 23 aku dipindah ke kamar VIP dengan kursi roda. Ternyata penentuan kamar ini juga berdasarkan kartu BPJSku. Karena BPJSku kelas 3, maka seharusnya aku dapat kamar kelas 3. Jika ingin upgrade ke VIP, maka tinggal bayar perbedaan harganya saja. Hal ini juga langsung clear karena usaha keluargaku ada kerjasama dengan RS PKU Muhammadiyah Solo. Jadi semua bill akan ditagihkan ke bendahara perusahaan. 

Aku kemudian ditempatkan di lantai 4 gedung baru di kamar VIP apa ya namanya lupa. Kamarnya lumayan luas dengan satu sofa penunggu, TV, AC, kamar mandi ya standar kamar rumah sakit lah. Perawatnya juga baik sekali yang shift malam itu. Karena merasa sudah secure dan ditangani oleh orang yang paham, aku memaksakan diri untuk tidur. 

Foto yang diambil buat dikirim ke mas Obi. Pertama kali ngabarin kalau resmi harus rawat inap.
Pas ini sama sekali nggak ngerti kenapa aku sampai begitu dan harus rawat inap

29 Mei. 

Pagi itu aku sudah jauh lebih baik. Suhu tubuh sudah normal, pusing juga sudah tidak. Tetapi aku diinfo akan rontgenjam 8 pagi untuk tahu hubungan batuk dengan semua gejala-gejala yang aku alami.

Rontgen berjalan lancar, seperti pada umumnya. Diminta untuk mengganti baju dengan baju khusus rontgent serta kalung dan bra diminta untuk dilepas. Saat itu mataku pedas sekali. Pengennya segera kembali ke kamar dan tidur. 

Sorenya dokter Arifin visit dan menanyakan keadaanku. Yang kuingat, semua obat disuntikkan lewat infus. Hanya ada satu dua obat yang diminum secara oral. Sehingga total ada 6 obat yang dimasukkan ke tubuhku. Sayangnya, aku lupa menanyakan hasil rontgentku sore itu karena dokternya selow sekali. Malah menanyakan keberadaan suamiku dan basa-basi yang lain. 

Hari ketiga di Rumah Sakit. 
Jujur saja, aku tidak tahu aku sakit apa sampai hari ketiga di rumah sakit. Saat itu mas Obi datang ke rumah sakit dan lewat nurse station. Secara tidak sengaja mas Obi dengar perawat itu membahas “kamar nomor VIP C sakit apa sih?” dan yang lain menjawab “paru-paru”. Dari situ aku baru tahu bahwa aku benar-benar sakit, bukan karena psikosomatis, dan ternyata karena infeksi pada paru-paruku. Bahasa ilmiahnya adalah bronchopneumonia. Dari situ kemudian aku belajar bahwa infeksi paru itu sebenarnya paling besar resikonya pada orang tua diatas 65 tahun dan peminum alkohol. 

Jelas aku bukan termasuk kedua bagian itu, lalu kenapa? Kemungkinan besar adalah karena aku berkendara dengan motor dan jarang sekali menggunakan masker. Bisa juga karena tetangga sempat sangat intens bakar-bakar sampah di dekat rumah. Atau bisa juga karena bakteri dari sekitaran dan aku tidak mencuci tangan setelah memegang sesuatu (yang mungkin saja mengandung bakteri tersebut) kemudian aku menyentuh hidung atau muka. 

Niat banget bawa segepok skincare dan pake di bed.
Pokoknya meski sakit paru-paru, muka tep harus glowing hahahaha


Hari keluar dari rumah sakit. 

Setelah 4 hari di rumah sakit, hari itu hari ke 22 puasa Ramadhan, aku dinyatakan boleh pulang oleh dokter Arifin. Senang sekali rasanya. Sudah bosan di rumah sakit dan ingin lebaran di rumah.

Sebelum keluar dari rumah sakit, seperti biasa seluruh urusan administrasi sudah harus kelar. Sungguh alhamdulillah, aku dan keluarga merasa sangat terbantu dengan adanya BPJS. Aku dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit dengan membayar 0 rupiah!! – Ps: biaya upgrade kamar ditagihkan ke perusahaan keluarga. 

----

Pengalaman pribadi yang panjang sekali dalam cerita ini akhirnya sampai pada sebuah pesan yaitu: rajin cuci tangan dan pakai masker jika keluar rumah (apalagi berkendara dengan motor). Pesan itu juga yang di masa Covid-19 ini digaung-gaungkan bisa mengurangi resiko penyebarannya. Karena ya memang itu poin pentingnya. Jaga kesehatan itu dimulai dari jaga kebersihan.

Pesan selanjutnya adalah menyiapkan semua dokumen penting di cloud atau internet dan membuat asuransi kesehatan, minimal BPJS. Nggak hanya buat ding, jangan lupa untuk membayar iuran BPJSnya juga tiap bulan. Bukan karena kita sehat dan merasa jika sudah bayar dan sayang jika tidak dipakai, tapi karena asuransi kesehatan itu adalah bagian dari manajemen resiko. Dalam kasusku, saat itu kondisinya bisnisku stop = tidak ada pemasukan, mas Obi juga belum gajian dan THR belum turun. Jika di IGD aku dipaksa berpikir untuk bagaimana mencari uang untuk menutup biaya rawat inapku, tentu aku akan lebih stress dan mending nggak masuk rumah sakit deh hahaha. Kondisi itu bisa memperparah penyakitku karena lebih lama penanganannya. Jadi #terimakasihBPJS :)

Sekarang, aku mulai mempertimbangkan memiliki asuransi kesehatan tambahan diluar BPJS. Apakah teman-teman ada rekomendasi? 

Salam, 
Bu Obi. 

Senin, 13 April 2020

Membuat Visa Schengen Belanda Keluarga tahun 2020 di VFS Surabaya Tanpa Travel Agent


Halo semua, 
Zidnie di sini. 

Lama sekali tidak menginvasi blog milik mas Obi ini LOL. Sesuai judulnya, saya ingin berbagi pengalaman membuat visa turis Schengen sekeluarga di tahun 2020 dengan tujuan utama Belanda (Netherlands) dan mengurus semua dokumen tanpa travel agent

Untuk kasus pada tulisan ini, pemohon adalah satu keluarga dengan ibu, ayah dan 2 anak berusia 24 tahun dan 15 tahun. Silakan disesuaikan dengan kebutuhan keluarga teman-teman. Langsung saja ya,

Visa Schengen ini visa yang diperlukan untuk memasuki Eropa, ada puluhan negara yang tergabung di visa ini. Maknanya, dengan memiliki visa Schengen, kita bisa masuk ke beberapa negara lain di Eropa. Negara mana saja yang termasuk Schengen silahkan di Google di blog lain ya hehehe.

Urutan membuat visa Schengen: 

Menentukan kedutaan negara mana untuk membuat visa.
Penentuan kedutaan ini nggak bisa ngasal ya, teman-teman. Ditentukan dari negara mana yang paling lama atau tujuan pertama. Karena rencananya keluarga akan datang mendarat di Belanda dan paling lama akan berkunjung di Belanda, jadi dipilihlah Kedutaan Belanda sebagai tempat mengajukan permohonan visa. 

Sejak beberapa tahun lalu, Kedutaan Belanda sudah menunjuk VFS sebagai penyalur resmi pembuatan turis visa. Sehingga kalau hanya membuat turis visa, kita tidak bisa lagi ke kedutaan Belanda. Harus melalui VFS. 

VFS di Indonesia ada di 3 kota; Jakarta, Surabaya dan Bali. Karena domisili kami ada di Solo, Jawa Tengah dan untungnya ada tol transjawa, kami memilih ke VFS Surabaya sehingga tidak perlu menginap.

VFS Surabaya letaknya ada di Jl. 10th floor, Unit 11, Graha Bukopin, Jl. Panglima Sudirman No. 10-18, Surabaya.

Menyiapkan dokumen. 
Dokumennya ini cukup banyak ya, kurang lebih 2 minggu saya siapkan semua perlengkapan. Pesan saya satu, teliti, lebih baik lebih daripada kurang. 

Note paling pentingsemua berkas ini disiapkan untuk setiap pemohon. Jadi misal satu keluarga terdiri atas 4 orang, maka masing-masing harus memenuhi dokumen di bawah ini.Misal: Sponsor letter and guarantee letter dari ayah untuk ibu dan anak-anak, maka setiap pemohon (ibu dan anak-anak) harus ada guarantee letter tersebut. 

Akan saya jelaskan satu per satu dokumen yang dibutuhkan di bawah ini: 
-    Passport asli. Dengan catatan:
o pastikan pada saat rencana keberangkatan, passport masih berlaku minimal 6 bulan. 
o Setelah passport diterima oleh VFS, passport tidak bisa diambil hingga passport dikembalikan kembali oleh Kedutaan Belanda (kurang lebih 2 minggu prosesnya). Sehingga pastikan passport tidak digunakan pada saat waktu pembuatan visa ini ya. 
o Jika teman-teman ada penambahan nama, biasanya karena namanya kurang dari 3 kata, nanti di visa yang kita terima, nama yang digunakan pada visa adalah nama yang ada di halaman keempat (page 4).

-    Fotokopi halaman passport. 
Halaman yang perlu di-copy: 
o yang ada foto (first page)
o halaman passport yang paling belakang atau halaman yang berisi tanda tangan (last page)
o passport halaman endorsement (page 4)
o dan semua halaman passport yang ada isinya, baik stempel keberangkatan kedatangan ataupun stempel visa lain. 

-    Issued visa lain. 
Karena beberapa visa negara yang pernah dikunjungi bentuknya adalah online visa dan tidak berbentuk stiker yang tertempel di paspor, maka kami juga melampirkan lembaran visa online tersebut.

-    Formulir aplikasi. 
Formulir aplikasi diharapkan mengisi secara online di website https://consular.mfaservices.nl/schengen-visa/short-stay . Isi saja sesuai dengan kondisi yang ada ya. Problem di saya kemarin bingung karena nama orang tua berbeda antara nama passport dan nama KTP (di passport ditambah bin dan binti untuk keperluan umroh). Jika di passport ada tambahan nama kasusnya seperti orang tua saya, surname at birth nya dikosongkan aja karena nama keluarga saat lahir kan tetap sama.
Formulir kemudian di print dan ditanda tangani ya. Khusus yang minor (di bawah 18 tahun), di tanda tangani oleh kedua orang tua. 

-    tidak butuh pas foto
Ini yang menarik banget nih hahaha. Sudah heboh baca-baca di semua blog suruh masukin pas foto (sampai kami foto 2x LOL). Sampe di VFS Surabaya ternyata pas foto nya nggak dipake. Cuman foto disana doang nanti. Jadi pastikan muka tidak dalam keadaan lecek ya :P.

-    SIUP dan SIUP yang diterjemahkan.
SIUP (surat izin usaha perdagangan) ini dibutuhkan karena ayah, sebagai penanggung biaya, adalah wiraswasta. Untuk terjemahannya, setelah saya email ke bagian vfs, mereka bilang bahwa semua file bisa diterjemahkan sendiri tidak perlu penerjemah tersumpah, jadilah saya terjemahkan sendiri. File translationnya ada di excel di link paling bawah ya.

-    Bukti bekerja istri.
Di kasus kami, ibu bekerja sebagai wiraswasta namun bergabung di usaha milik ayah. Sehingga tidak ada SIUP yang membuktikan ibu bekerja sebagai wiraswasta. Solusinya, buat saja surat, lengkap dengan kop dan cap nya, menyatakan bahwa ayah sebagai pemilik usaha menjamin bahwa ibu bekerja di usaha miliknya sebagai apa (posisinya) dan menjamin bahwa tidak akan mencari pekerjaan di Belanda.

-    Sponsor letter + guarantee letter.
Karena berangkat sekeluarga dan ayah sebagai sponsor yang akan menanggung semua biaya, maka dibuatlah sponsor letter yang menyatakan bahwa ayah menanggung ibu dan adik-adik sekaligus memastikan bahwa mereka tidak akan mencari kerja di Belanda. Surat kemudian diberi materai + tanda tangan basah. File ada di excel paling bawah ya. Silahkan di download.

-    Copy tabungan 3 bulan terakhir + bank reference.
Ini cenderung mudah ya. Tinggal datang ke bank yang kalian pakai, bilang minta bank reference. Mereka sudah paham. Biasanya hanya ditanya keperluan untuk ke kedutaan mana. Biayanya kalau BNI Syariah Rp150,000 dan sudah termasuk copy rekening koran 3 bulan terakhir. 
Untuk kasus kami, karena ayah sebagai sponsor, maka yang diperlukan hanya bank reference dan buku tabungan ayah saja. Bagi yang dirinya mensponsori diri sendiri, maka harus disiapkan ya buku tabungan pribadinya.
Untuk nominal di dalam tabungan harus berapa Zid? Ini saya dapat langsung dari pihak Kedutaan Belanda waktu memastikan via telfon bulan Februari 2020. Jawabannya adalah per hari per orang dibutuhkan minimal EUR 55. Jadi misal pergi berdua saja untuk perjalanan selama 14 hari rumusnya jadi: 2 orang x 14 hari x EUR55 = EUR 1,540. Tinggal dikalikan kurs rata-rata minggu itu deh.

-    Itinerary.
Ini simpel saja. Hanya tabel berisi kemana saja selama perjalanan tersebut. Pastikan bahwa tanggalnya sesuai antara pergi dan pulangnya ya. Saya juga menambahkan kolom akomodasi agar bagian konsuler juga mudah untuk cek dengan akomodasi saya. Contohnya ada di file excel paling bawah ya.

-    Copy bukti ticket booking.
Ini adalah bukti booking tiket dari Indonesia – Belanda PP. Pastikan setiap orang yang berangkat ada nama di tiket ya. Pastikan juga nama di tiket sama dengan nama di passport agar tidak ribet di kemudian hari hehe. 
Bookingnya via apa Zid? Jujur saja, kemarin dapat tiket promo dari Emirates, jadi langsung sudah ada printed issued ticketnya. Kalau bookingan dummy (agar bisa di-reschedule untuk kemudian hari), saya kurang paham ya hehehe. Baca-baca di blog orang sih katanya bisa booking dummy via travel agent. Yang jelas, jangan buru-buru di cancel yaa. Cancelnya nanti saja setelah visa sudah tertempel.

-    Copy bukti hotel booking.
Karena kami rencananya akan keliling beberapa negara, maka dibutuhkan juga booking hotel di negara tersebut. Bookingnya pakai aplikasi booking.com. Pilih yang free cancellation dan no prepayment. Biar lebih fleksibel gitu jika nanti itinerarynya berubah pada kenyataan. 
Yang dibutuhkan di booking hotel ini adalah kartu kredit. Kartu kredit yang digunakan untuk booking juga harus milik salah satu orang yang pergi dan menginap. Jadi nggak bisa asal pinjam di tetangga atau teman gitu ya hehe. 
Ada satu hotel yang kami booking melakukan tes pembayaran dengan meminta EUR 1 pada 2 hari setelah kami booking. Tapi jangan khawatir, uang itu akan kembali kok ke kartu kalian. Mereka hanya melakukan percobaan pembayaran.
Jika tidak punya kartu kredit, sekarang ada rekening milik BTPN, namanya Jenius. Kartu Jenius ini bisa juga untuk pembayaran setara kartu kredit. Jadi bisa banget digunakan untuk booking hotel. – ini review jujur bukan berbayar- 
Sama dengan booking tiket pesawat, booking ini jangan buru-buru di cancel ya. Dibiarkan saja dulu sampai visa sudah tertempel di passport teman-teman.

-    Copy polis travel insurance.
Ini juga wajib hukumnya. Ada ketentuan asuransi minimal yang dipakai harus cover minimal EUR 30.000. Setelah searching-searching dan baca-baca blog orang. Kami menjatuhkan pilihan ke AXA Smart Traveller (https://travel.axa-insurance.co.id/)dan setelah email ke CS nya, baik plan yang Gold maupun Platinum, keduanya sudah termasuk yang direkomendasikan untuk perjalanan dan sesuai dengan minimal dari requirement visa Schengen. Tim Axa juga sangat fast response via email. Menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan sangat baik. Bahkan ketika akhirnya harus di refund mereka juga membantu dan proses refundnya lancar. Oh iya, jangan takut jika misal teman-teman tanggal berangkatnya berubah, mereka juga siap bantu kok. – lagi lagi review jujur ya

-    Copy KTP dan terjemahannya.
Ini juga mudah, saya lampirkan file terjemahan KTP yang saya gunakan di excel yang bisa didownload paling bawah. Silahkan digunakan hehe.
Khusus jika pergi dengan anak di bawah umur 18 tahun, maka lampirkan KTP dan terjemahan kedua orang tua pada berkas anak. Pastikan bahwa tanda tangan di KTP adalah sama dengan tanda tangan di lembar formulir pengajuan Schengen visa. 

-    Copy akta lahir dan terjemahannya.
Ini bagi yang lahir diatas tahun 2000 mudah ya, karena akte nya sudah dwi Bahasa sehingga bisa langsung digunakan. Nah, yang PR besar adalah karena orang tua saya ternyata belum punya akte lahir dan belum tercatat lahir di Dukcapil hahaha. Akhirnya buat deh di Dukcapil kota kami. Keluarnya sudah dwi Bahasa (hore!), jadi bisa langsung digunakan.
Khusus untuk anak dibawah 18 tahun (minor), disiapkan akta lahir asli untuk dibawa saat ke VFS ya. Jika pergi dengan kedua orang tua, seperti adik saya, maka lebih mudah tinggal lampirkan KTP seperti yang saya jelaskan di poin KTP. Tetapi jika minor dan pergi dengan salah satu orang tua, maka harus membuat surat pernyataan dan disahkan oleh notaris (info ini saya dapat di : https://www.vfsglobal.com/Netherlands/Indonesia/Bahasa/Tourist.html)

-    Copy buku nikah dan terjemahannya. 
Buku nikah orang tua di copy dan diterjemahkan (saya lampirkan file nya untuk membantu jika ada yang butuh hehe). Jika teman-teman sudah menikah juga perlu dilampirkan. Yang agak jadi PR jika seorang istri bepergian sendiri  tanpa suami maka perlu juga membuat surat izin dari suami dan FC KTP suami ya.

-    Copy Kartu Keluarga dan terjemahannya.
Ini juga cenderung mudah. Saya lampirkan file terjemahan di excel di bawah. 

-    Surat dari Kelurahan yang menyatakan orang yang sama dan terjemahannya.
Karena perbedaan nama di KTP dan di Passport (karena passport ditambah bin dan binti) maka kami memutuskan melampirkan surat dari kelurahan yang menyatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang sama.
Caranya, ke RT dan RW untuk minta surat pengantar membuat surat keterangan orang yang sama. Kemudian tinggal ke Kelurahan. Kelurahan langsung paham kok dan langsung dicetak. Terakhir, kita terjemahkan surat tersebut. 

-    Kartu Mahasiswa/ Kartu Pelajar dan terjemahannya.
Karena adik-adik saya masih pelajar dan mahasiswa, maka tinggal di copy saja kartu mahasiswa dan kartu pelajarnya. Di terjemahkan sendiri juga. Sayangnya karena kartu pelajar berbeda-beda, saya tidak bisa memberi formatnya.
Jika bepergiannya adalah di hari sekolah atau kegiatan belajar mengajar, maka lampirkan juga surat izin dari sekolah. 

-    Semua file tidak perlu diklip dengan stapler ya. Tidak perlu diberi clip note juga. Karena nanti toh akan diminta dibuka di VFS huhu.

Sambil menyiapkan dokumen, bisa juga langsung membuat janji temu di VFS Surabaya (https://www.vfsglobal.com/Netherlands/Indonesia/Bahasa/Schedule-an-Appointment.html)
-    Janji temu dibuat tidak boleh lebih dari 6 bulan dan minimal 3-4 minggu sebelum kepergian. Jika pergi pada bulan Mei, maka bulan Januari sudah bisa melakukan janji temu.
-    Untuk VFS Surabaya, 1 janji temu hanya bisa untuk 2 pemohon. Tapi jangan khawatir. Jika sekeluarga lebih dari 2 pemohon, maka pilih janji temu yang jaraknya 15 menit. Nanti pada kenyataannya bisa masuk satu keluarga bersamaan kok.
-    Di web janji temu itu akan diminta nomor passport, tanggal lahir dan kategori visa. Pastikan tidak salah mengisi ya. Cek lagi setelah mengisi sebelum lanjut ke halaman berikutnya.
-    Setelah selesai memilih jadwal, kita akan mendapat email berisi file nomor referensi dan jadwal janji temu. Di file tersebut juga ada detail pembayaran (padahal belum bayar haha), biaya yang harus dibayarkan untuk jasa VFS. Biaya per orang untuk jasa VFS adalah Rp256.000.

Datang ke VFS pada hari yang telah ditentukan.
-    Pastikan membawa semua dokumen yang ada di poin 2. Pastikan juga datang tepat waktu di jam yang sesuai. Jika terlambat 15 menit, sayangnya kita harus membuat janji temu ulang. Lebih baik datang 10 menit lebih awal.
-    Masuk ke gedung Graha Bukopin dan tukarkan tanda pengenal di security untuk mendapat kartu akses. Kemudian naik lift ke lantai 10. 
-    Sebelum masuk ke kantor VFS, kita akan ditemui oleh security dan akan ditanya tentang janji temu. Jika teman-teman datang sesuai dengan jam, maka security akan mencetak nomor referensi teman-teman sebagai bukti masuk. Jika teman-teman membawa kamera atau laptop, kamera dan laptop harus dititipkan di bagian ini. 
-    Setelah masuk di ruangan, menurut saya VFS Surabaya ini tidak terlalu besar ya, sehingga benar-benar diminta untuk tenang. Di dalam ruangan juga diminta untuk tidak menerima telfon dan juga tidak membuat rekaman baik foto maupun video. Di bagian sebelah pintu ada sebuah meja panjang untuk menata berkas. Berkas akan diminta untuk diurutkan sesuai dengan urutan yang diminta VFS (maaf tapi tidak boleh foto di ruangan jadi tidak sempat mendokumentasikan urutannya apa saja) dan diminta untuk membuka klip staplernya. 
-    Saat dipanggil, yang dipanggil pertama adalah urutan pertama pada janji temu. Saran saya sih tuliskan nama ayah/penanggung jawab perjalanan sebagai nama pertama di janji temu. Nantinya semua berkas akan dipegang ayah sehingga anggota keluarga yang lain tidak perlu menuju meja petugas VFS.
-    Saat di meja, petugas tidak terlalu banyak bertanya baik tujuan perjalanan dll. Petugas hanya mengecek berkas dan dokumen yang kita kumpulkan. Selanjutnya, petugas akan menawarkan jika visa sudah jadi akan diambil atau dikirim juga menawarkan jasa SMS jika visa sudah jadi. Kami memilih untuk mengirim dengan biaya Rp100.000 per passport. Meski satu keluarga, tapi tidak bisa jadi satu paket huhu.
-    Setelah mengecek dokumen, kita tinggal membayar. Biayanya adalah EUR 80 per pemohon, ditambah dengan biaya VFS Rp256.000 dan biaya jasa kirim dan sms yang sebelumnya kita setujui. Sudah deh, tinggal kembali dan menunggu panggilan selanjutnya.
-    Terakhir, akan dipanggil untuk melakukan biometric atau rekam sidik jari dan foto.

Menanti visa approved.
-    Proses visa kurang lebih 14 hari. Selama proses visa, passport kita tidak bisa diambil dengan alasan apapun. 
-    Setelah 14 hari, nanti akan ada SMS (harusnya sih, di kami tapi tidak dapat SMS hahaha) dan passport akan dikirim ke rumah.
-    Jumlah hari visa yang disetujui tidak ada yang tahu ya bagaimana tips n trick agar dapat jumlah hari visa yang panjang. Alhamdulillah, keluarga kami disetujui visa berlaku selama 4 bulan.
-    Katanya sih jika sudah pernah dapat visa Schengen, ke depannya akan lebih mudah. Tidak perlu ke VFS lagi karena sudah ada rekam biometriknya. Nanti saya update lagi untuk permohonan visa Schengen kedua dan atau ketiga hehe. 

Panjang dan melelahkan tapi memang begitu yang harus dilakukan agar bisa berkunjung ke Belanda. Semoga yang sedang proses diberikan kelancaran dan kemudahan ya! 

Link contoh terjemahan SIUP, KK, KTP, Sponsor Letter, Itinerary: 

Regards,
Zidnie.