Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak
menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah
bekerja untuk keabadian - Pramoedya Ananta Toer
Posting pertama di blog ini bukanlah tentang pengalaman,
tips dan trik, kumpulan prosa dan sajak, ataupun tentang rencana masa depan.
Ini sebagai tagging bahwa dimulainya blog ini mengikat dan
mengharuskan saya untuk menulis. Menulis di sini bukan sebagai wujud
eksistensi, namun lebih kepada bagaimana saya bisa terus belajar untuk mengasah
otak. Karena pada akhirnya, tulisanlah yang akan berkata siapa penulisnya.
Di sisi lain, keinginan menulis ini sering datang dan
mengusik pikiran ketika menundanya setelah bertemu dengan Asma Nadia. Dalam pertemuan
yang bisa dibilang privat tersebut, beliau selalu menguatkan tentang kemauan
kita untuk menulis. “Menulis adalah Ibadah” kata beliau. Belum lagi ada target
dimana beliau harus menulis novel lebih banyak dari jumlah umur beliau. Tidak heran
di umur beliau yang masih muda sudah me-release puluhan buku yang di antaranya
merupakan buku best seller dan di
angkat ke layer lebar.
Selain itu, yang menggerakkan dan memaksa aku untuk menulis
sesuatu adalah Raditya Dika. Penulis yang multi
talent ini sering sekali mengunggah vlog nya ke youtube dan menjadi teman
makan yang baik di apartement. Ada salah satu vlognya, dimana dia sedang
mengisi suatu seminar tentang creativepreneurship
di Yogyakarta. Dalam cuplikan materi yang dibawakannya, dia berkata “Ini adalah
hari dimana, lo memberanikan diri lo untuk bikin sesuatu yang selama ini lo
tunda. Apapun yang ada dalam diri lo ini, menunggu untuk dibuat, jadi jangan
lama-lama”. What a great speech!
Siapa tau ke depannya aku bisa menjadi seseorang penulis
ataupun creative creator.
Oke, mungkin inilah alasan kenapa saya harus menyegerakan
diri untuk segera menulis. Tulisan pertama itu pasti sampah. Contohnya keresahan
ini.
Well, tapi tampaknya memang tidak mudah untuk menjaga kontinyuitas. Semoga mood ini selalu bagus ya