Rabu, 21 Desember 2016

Tiket Emas Itu Bernama IELTS

If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart – Nelson Mandela

Bahasa Inggris adalah salah satu Bahasa yang sudah saya pelajari sejak SD hingga di bangku perkuliahan, namun apa masalahnya? Saya sangat jarang menggunakan Bahasa tersebut di kehidupan sehari-hari, sehingga Bahasa yang menjadi Bahasa internasional tersebut terasa momok dan sulit buat saya.

Tes IELTS yang notabene harus menguasai 4 kemampuan (listening, reading, writing, dan speaking) bisa dibilang adalah rintangan terbesar. Belum lagi saya harus menembus score 6.5 untuk menjadi golden ticket untuk bisa melanjutkan studi di negeri orang dan juga biaya tes yang tidak sedikit untuk saya yang waktu itu masih bekerja serabutan.

Well, dengan menginvestasikan tabungan yang ada, saya mendaftar kursus IELTS pertama di CILLACS UII, Yogyakarta karena kebetulan waktu itu bulan Ramadhan, lembaga tersebut mengadakan short course untuk IELTS purpose dalam waktu 9 kali pertemuan. Biaya les ini cukup terjangkau untuk kursus sekelas IELTS yaitu sebesar Rp.400,000.-.

Kelas pertama, yaitu membahas tentang reading. Kami diberikan selebaran soal dan kami harus menjaabnya dalam waktu tidak kurang dari 60 menit. Soal reading IELTS memang beda dari TOEFL. Ada beberapa varian soal yang diberikan seperti multiple choice, fill the blank, dan lain lain. Dengan keterbatasan kosa kata dan pengetahuan, di akhir latihan ini, saya hanya mampu menjawab tidak lebih dari 10 jawaban yang benar dari 40 soal.

Kemudian di pertemuan berikutnya, kami diberikan latihan listening. Listening ini totally different dengan listening yang ada di TOEFL yang cenderung pilihan ganda, monoton dan bisa ditebak polanya. IELTS memberikan warna yang berbeda karena kita bukan hanya diharuskan menjawab dengan model pilihan ganda, tetapi juga dengan mengisi kata kata pada kalimat, sehingga aturan baku dari penulisan kata-kata dalam Bahasa inggris harus benar-benar diperhatikan, seperti door-to-door, America, Will Smith, dan lain sebagainya. Lagi-lagi, karena saya tidak bisaa mendengarkan dan meperhatikan orang berbicara dalam bahasa inggris, akhirnya saya mendapat hasil yang tidak jauh beda dengan reading di pertemuan sebelumnya.

Writing menjadi latihan kami dalam pertemuan ketiga. Kami diberikan soal grafis (part I) dan studi kasus (part II). Kita diminta untuk mendeskripsikan soal tersebut sesuai dengan cara pikir dan cara pandang kita. Intinya tidak ada jawaban yang salah dan benar di sini. Semua bergantung bagaimana cara kita untuk menyampaikan pesan yang ada dalam soal ke dalam bentuk tulisan. Penting rasanya untuk serius memperhatikan kesinambungan kalimat, variasi kalimat, padanan kata, dan lain sebagainya.

Dari 9 kali pertemuan, ternyata hasil yang saya dapatkan kurang memuaskan. Saya sempat berhenti belajar IELTS ini karena idul fitri dan setelahnya ada pekerjaan serabutan di kampus yang harus diselesaikan. Di tengah-tengah pekerjaan serabutan, saya bertemu dengan Zaki Arobbi (Saat ini dia sudah menjadi Mahasiswa Master di University of Essex, UK), teman di satu organisasi yang memiliki keinginan yang sama untuk les IELTS dan kebetulan dia ini memiliki teman yang pernah les di lembaga REALIA dan mendapatkan score yang sesuai dengan targetnya. Tidak lama setelah pertemuan itu, kami mendatangi tempat kursus tersebut dan bertemu dangan salah satu staf pengajar di situ, kami bertanya seputar metode pengajaran yang diberikan dan lain sebagainya. Lembaga ini cukup unik menurutku  karena mematok maksimal 5 orang murid dalam setiap kelas, sehingga pembelajaran jadi lebih efektif. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti les ini dengan menambah 1 anggota lagi yaitu Intan Purwandani (Saat ini dia adalah mahasiswa Master di Wageningen University, Belanda).

Mas Ahmed, sebagai salah satu tutor kami, di awal pertemuan mengatakan bahwa untuk mendapatkan score 6.5, cukuplah dengan mencapai 6.5 di reading dan listening dan 6 di speaking dan writing. Itulah yang jadi standar kami saat itu.

Hari-hari perkususan kami lewati dengan pelbagi macam proses yang akhirnya kami jadi mengetahui letak kemampuan sekaligus kelemahan terbesar dari tiap bagian tes IELTS. Bagi saya pribadi, kesulitan terbesar adalah pada bagian reading, selain karena pada dasarnya saya kurang suka untuk membaca, saya juga belum terbisaa dengan bacaan bahasa inggris. Menurut pandangan pribadi, bacaan di soal reading IELTS adalah tentang hal-hal yang berbau ilmiah, entah itu ilmu alam ataupun ilmu sosial. Ketika mendapatkan bacaan yang berhubungan dengan ilmu sosial, lelah rasanya otak ini untuk memahami apa maksudnya. Belum lagi seringkali bertemu dengan vocabulary yang asing.

Singkat cerita, setelah selesai dalam 20 kali pertemuan les di REALIA, ternyata Intan dan Zaki mengalami kemajuan dan pesat dalam perkembangan menjawab soal-soal IELTS, sedangkan saya belum mengalami perkembangan yang signifikan dalam pencapaian angka 6.5 dikarenakan masih sibuk dengan pekerjaan dan juga mengalami sakit yang mengganggu konsentrasi dan konsistensi dalam belajar. Akhirnya saya memutuskan untuk hijrah menuju Pare (Kampung Inggris di Kediri). Hijrah ke sana dengan tujuan untuk mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk belajar IELTS karena rumornya setiap pribadi diwajibkan untuk berbahasa inggris di sana.

Ternyata biaya untuk les di Pare sangat terjangkau. Saat itu, biaya yang diperlukan ketika saya mengambil program IELTS di Global English selama satu bulan sebesar Rp.1.050,000.00 dan sudah termasuk biaya asrama. Dengan biaya seperti itu, saya tidak yakin di Jogja bisa mendapatkan fasilitas yang sama dengan di Pare. Proses pembelajaranpun dimulai, setiap hari mulai pagi hingga siang kami dilatih agar terbisaa untuk mengerjakan soal IELTS. Soal yang diberikan tidak hanya soal yang official (soal latihan IELTS yang dikeluarkan oleh lembaga resmi seperti Cambridge), namun juga soal yang tidak official, dimana tingkat kesulitan sudah pasti lebih tnggi. Hari demi hari, Alhamdulillah, akhirnya ada peningkatan sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya saya merasa kurang maksimal ketika dijajal untuk menghadapi speaking test karena keterbatasan vocabulary yang saya miliki, tidak fuent, dan juga terlalu banyak filler (berhenti sekian detik untuk berpikir ataupun berucap “eeeeeee”.

2 minggu terakhir di Pare, saya memutuskan untuk mengambil program tambahan di tempat kurusus The Key, tempat kursus yang memiliki spesialisi di bidang speaking. Dengan terapi yang diberikan oleh tutor, perlahan tapi pasti, akhirnya saya bisa mereduksi kekurangan di bidang speaking. Setiap hari kami diberi tugas untuk berbicara di depan kelas dengan Bahasa Inggris tentang topik yang kita pilih sendiri, namun kami tidak diperkenankan untuk berdiam lebih dari 5 detik, memperhatikan pronunciation, dan harus menggunakan grammar yag tepat.

1 bulan di Pare terlewati dan akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Jogja untuk melakukan self-preparing. Kurang lebih selama  bulan di Jogja, saya mengasingkan diri dari pergaulan, mengunci diri di kamar hanya untuk 1 hal yaitu 6.5 untuk si IELTS ini. Dalam sebulan tersebut benar-benar saya maksimalkan untuk belajar, tidak jarang dalam 1 hari saya menghabiskan setengah buku latihan Cambridge. Untuk speaking, saya berlatih dengan membaca soal tersebut, lalu menjawabnya dengan merekam ucapan saya sendiri tersebut. Dalam writing section bisaanya saya berusaha melatih diri untuk menulis pola yang sudah pernah dikerjakan dan mendapatkan score 6 atau 6.5 dari tutor. Pada latihan listening, saya tidak hanya menjawab apa saja soal-soal yang diberikan, namun juga menulis kata demi kata apa yang dibicarakan oleh si orang yang ada di rekaman. Sedangkan reading, saya terus latih dengan mengerjakan soal soal di buku latihan. Disiplin adalah kunci utama dalam latihan karena saya mengatur waktu seperti pada saaat tes IELTS yang sesungguhnya. Latihan selama sebulan ini saya lakukan terus menerus, bahkan apabila buku latihan sudah habis, saya cetak lagi dari awal dan saya kerjakan lagi. Hingga pada saat di akhir seminggu terakhir sebelum tes yang sesungguhnya, saya merasa benar-benar mual. Mual untuk melihat, bahkan mengerjakan buku latihan, belum lagi ada penurunan performance di bagian reading.

Saya mengikuti real test IELTS ini di IDP Yogyakarta. Jika saat itu gagal, $220 melayang sudah.

Hari H pun datang. Tes IELTS yang sesungguhnya akhirnya saya hadapi. Karena pendaftar tes begitu banyak akhirnya hari tes dibagi 2, hari pertama untuk tes speaking, dan hari kedua untuk yang lainnya. Di hari pertama saya datang tidak terlalu pagi dan tidak terlalu mepet. Tes speaking ini dilakukan di gedung PUsat Pelatihan Bahsa UGM lantai 3. Sebelum ruangan untuk tes IELTS dibagi, kami dipersilakan untuk diambil foto sertifikat terlebih dahulu. Hari itu hari jumat, saya mendapatkan giliran setelah jumatan, tetapi dengan examiner Mrs. X, yang rumor dan legendanya, beliau adalah examiner yang jutek dan sulit untuk memberikan nilai yang bagus untuk bocah-bocah baik seperti kami.

Dengan langkah gontai setelah jumatan, saya menaiki tangga dengan kaki yang rasanya lemas. Tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya nanti. Dengan perasaan pasrah, saya memasuki ruangan tes. Dan, ternyata apa yang dikatakan mereka tidak sesuai dengan kenyataannya. Mrs. X ini sangat baik dan ramah, selain itu apa yang diucapkannya sangat jelas, sehingga bisa sedikit menghapus rasa gugup saya. Alhamdulillah hari pertama berjalan dengan baik, at least sudah bisa menghapus salah satu beban di kepala ini.

Keesokan harinya tes dilaksanakan di Gedung X (saya lupa namanya) di dekat gedung XXI Yogyakarta. Apesnya di hari itu, saya meninggalkan alat tulis yang sudah saya siapkan lengkap di atas tempat tidur. Saya lupa mengeceknya kembali sebelum berangkat karena tergesa-gesa. Allah Selalu Memiliki caraNya untuk menolong hambaNya. Di tempat tes itu, saya bertemu dengan teman lama yang dia bersedia untuk membagi pensil dan penghapusnya. Membagi yang benar benar membagi. Dia mematahkan separo pensil dan penghapusnya untuk saya. Lalu Nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?

Tes pertama untuk listening, Alhamdulillah bisa berjalan dengan lancar. Tes kedua. Reading. Ternyata saya bertemu sesosok momok di sini. Soal yang berkaian dengan ilmu sosial. Otak saya kurang banyak terlatih untuk memahami bacaan bacaan ini. Dan akhrinya di akhir 5 menit, saya jawab jawaban – jawaban yang kosong dengan metode intuisi. Writing, pattern yang sudah saya latih tiap harinya bsa saya terapkan disini. Ekspektasi saat itu, 6.5 sudahlah cukup. Sudah mual untuk membuka buku latihan. Butuh istirahat.

Saya sudah berusaha sejauh ini, untuk hasil bukan urusan saya. Allah Mengetahui yang terbaik untuk umatNya

Hari pengumuman pun tiba, saya berusaha menguatkan diri apapun yang terjadi. Ketika portal terbuka, Allah Menunjukkan kasih dan sayangnya. Alhamdulillah, score 6.5 di tangan. Golden ticket di genggaman.


Köszönöm

Kamis, 01 Desember 2016

An Assumption

Never assume the obvious is true – William Safire

Today, I was surprised in the class of Communication. Why? Because the lecturer was changed. It was not Dr. Csilia, but she was a doctoral student. Where was our real lecturer? Oh, She sit in the front row next to other students.

This lecturer attracted us because she was a lady wearing hijab and Pakistani as well. She had a unique pronounciacence and fast talking. Moreover, she tried to take our attention to her explanation. She explained those super-bored-theories with the ridiculous examples, so we were able to understand what she said.

An assumption, it became the one of her explanation that made me interested in. At the almost last minutes of the lecturer, suddenly she drew a circle in the board and she said, “what is this?” while she pointed and knocked the board. Almost all of students answered with their opinion, such as circle, ball, donuts, and so on. This teacher was not satisfied with our answer, until she said, “Students, I pointed and knocked this board, does it means I referred to my graph? It is called an assumption. All of you people have different assumption with me”. All students were quite after paying attention to her explanation. Oh, my God, this was true!

If I reflected in the real life, there many people who debate each other because every single head has their own assumption, opinion, and point of view. Sometimes, I think it is very prominent to make a coffee talk to discuss our opinion.

PS: Because I was late for 10 minutes, I missed to know her name.

Köszönöm