If you talk to a man in a language he understands, that goes to his
head. If you talk to him in his language, that goes to his heart – Nelson
Mandela
Bahasa Inggris adalah salah satu
Bahasa yang sudah saya pelajari sejak SD hingga di bangku perkuliahan, namun
apa masalahnya? Saya sangat jarang menggunakan Bahasa tersebut di kehidupan
sehari-hari, sehingga Bahasa yang menjadi Bahasa internasional tersebut terasa
momok dan sulit buat saya.
Tes IELTS yang notabene harus
menguasai 4 kemampuan (listening, reading, writing, dan speaking) bisa dibilang adalah
rintangan terbesar. Belum lagi saya harus menembus score 6.5 untuk menjadi golden
ticket untuk bisa melanjutkan studi di negeri orang dan juga biaya tes yang
tidak sedikit untuk saya yang waktu itu masih bekerja serabutan.
Well, dengan menginvestasikan tabungan yang ada, saya mendaftar
kursus IELTS pertama di CILLACS UII,
Yogyakarta karena kebetulan waktu itu bulan Ramadhan, lembaga tersebut
mengadakan short course untuk IELTS purpose dalam waktu 9 kali pertemuan. Biaya
les ini cukup terjangkau untuk kursus sekelas IELTS yaitu sebesar Rp.400,000.-.
Kelas pertama, yaitu membahas
tentang reading. Kami diberikan
selebaran soal dan kami harus menjaabnya dalam waktu tidak kurang dari 60
menit. Soal reading IELTS memang beda
dari TOEFL. Ada beberapa varian soal yang diberikan seperti multiple choice, fill the blank, dan
lain lain. Dengan keterbatasan kosa kata dan pengetahuan, di akhir latihan ini,
saya hanya mampu menjawab tidak lebih dari 10 jawaban yang benar dari 40 soal.
Kemudian di pertemuan berikutnya,
kami diberikan latihan listening. Listening ini totally different dengan listening
yang ada di TOEFL yang cenderung pilihan ganda, monoton dan bisa ditebak
polanya. IELTS memberikan warna yang berbeda karena kita bukan hanya diharuskan
menjawab dengan model pilihan ganda, tetapi juga dengan mengisi kata kata pada
kalimat, sehingga aturan baku dari penulisan kata-kata dalam Bahasa inggris
harus benar-benar diperhatikan, seperti door-to-door,
America, Will Smith, dan lain sebagainya. Lagi-lagi, karena saya tidak bisaa
mendengarkan dan meperhatikan orang berbicara dalam bahasa inggris, akhirnya
saya mendapat hasil yang tidak jauh beda dengan reading di pertemuan sebelumnya.
Writing menjadi latihan kami dalam pertemuan ketiga. Kami diberikan
soal grafis (part I) dan studi kasus
(part II). Kita diminta untuk
mendeskripsikan soal tersebut sesuai dengan cara pikir dan cara pandang kita.
Intinya tidak ada jawaban yang salah dan benar di sini. Semua bergantung
bagaimana cara kita untuk menyampaikan pesan yang ada dalam soal ke dalam
bentuk tulisan. Penting rasanya untuk serius memperhatikan kesinambungan
kalimat, variasi kalimat, padanan kata, dan lain sebagainya.
Dari 9 kali pertemuan, ternyata
hasil yang saya dapatkan kurang memuaskan. Saya sempat berhenti belajar IELTS
ini karena idul fitri dan setelahnya ada pekerjaan serabutan di kampus yang
harus diselesaikan. Di tengah-tengah pekerjaan serabutan, saya bertemu dengan
Zaki Arobbi (Saat ini dia sudah menjadi Mahasiswa Master di University of Essex, UK), teman di satu
organisasi yang memiliki keinginan yang sama untuk les IELTS dan kebetulan dia
ini memiliki teman yang pernah les di lembaga REALIA dan mendapatkan score
yang sesuai dengan targetnya. Tidak lama setelah pertemuan itu, kami mendatangi
tempat kursus tersebut dan bertemu dangan salah satu staf pengajar di situ,
kami bertanya seputar metode pengajaran yang diberikan dan lain sebagainya.
Lembaga ini cukup unik menurutku karena
mematok maksimal 5 orang murid dalam setiap kelas, sehingga pembelajaran jadi
lebih efektif. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti les ini dengan menambah
1 anggota lagi yaitu Intan Purwandani (Saat ini dia adalah mahasiswa Master di Wageningen University, Belanda).
Mas Ahmed, sebagai salah satu
tutor kami, di awal pertemuan mengatakan bahwa untuk mendapatkan score 6.5, cukuplah dengan mencapai 6.5
di reading dan listening dan 6 di speaking
dan writing. Itulah yang jadi standar
kami saat itu.
Hari-hari perkususan kami lewati
dengan pelbagi macam proses yang akhirnya kami jadi mengetahui letak kemampuan
sekaligus kelemahan terbesar dari tiap bagian tes IELTS. Bagi saya pribadi,
kesulitan terbesar adalah pada bagian reading,
selain karena pada dasarnya saya kurang suka untuk membaca, saya juga belum terbisaa
dengan bacaan bahasa inggris. Menurut pandangan pribadi, bacaan di soal reading IELTS adalah tentang hal-hal
yang berbau ilmiah, entah itu ilmu alam ataupun ilmu sosial. Ketika mendapatkan
bacaan yang berhubungan dengan ilmu sosial, lelah rasanya otak ini untuk
memahami apa maksudnya. Belum lagi seringkali bertemu dengan vocabulary yang asing.
Singkat cerita, setelah selesai
dalam 20 kali pertemuan les di REALIA,
ternyata Intan dan Zaki mengalami kemajuan dan pesat dalam perkembangan
menjawab soal-soal IELTS, sedangkan saya belum mengalami perkembangan yang
signifikan dalam pencapaian angka 6.5 dikarenakan masih sibuk dengan pekerjaan
dan juga mengalami sakit yang mengganggu konsentrasi dan konsistensi dalam
belajar. Akhirnya saya memutuskan untuk hijrah menuju Pare (Kampung Inggris di
Kediri). Hijrah ke sana dengan tujuan untuk mendapatkan lingkungan yang
kondusif untuk belajar IELTS karena rumornya setiap pribadi diwajibkan untuk
berbahasa inggris di sana.
Ternyata biaya untuk les di Pare
sangat terjangkau. Saat itu, biaya yang diperlukan ketika saya mengambil
program IELTS di Global English selama satu bulan sebesar Rp.1.050,000.00 dan
sudah termasuk biaya asrama. Dengan biaya seperti itu, saya tidak yakin di
Jogja bisa mendapatkan fasilitas yang sama dengan di Pare. Proses
pembelajaranpun dimulai, setiap hari mulai pagi hingga siang kami dilatih agar
terbisaa untuk mengerjakan soal IELTS. Soal yang diberikan tidak hanya soal
yang official (soal latihan IELTS yang dikeluarkan oleh lembaga resmi seperti
Cambridge), namun juga soal yang tidak official, dimana tingkat kesulitan sudah
pasti lebih tnggi. Hari demi hari, Alhamdulillah, akhirnya ada peningkatan
sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya saya merasa kurang maksimal ketika
dijajal untuk menghadapi speaking
test karena keterbatasan vocabulary
yang saya miliki, tidak fuent, dan juga terlalu banyak filler (berhenti sekian
detik untuk berpikir ataupun berucap “eeeeeee”.
2 minggu terakhir di Pare, saya
memutuskan untuk mengambil program tambahan di tempat kurusus The Key, tempat
kursus yang memiliki spesialisi di bidang speaking.
Dengan terapi yang diberikan oleh tutor, perlahan tapi pasti, akhirnya saya bisa
mereduksi kekurangan di bidang speaking.
Setiap hari kami diberi tugas untuk berbicara di depan kelas dengan Bahasa
Inggris tentang topik yang kita pilih sendiri, namun kami tidak diperkenankan
untuk berdiam lebih dari 5 detik, memperhatikan pronunciation, dan harus
menggunakan grammar yag tepat.
1 bulan di Pare terlewati dan
akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Jogja untuk melakukan self-preparing.
Kurang lebih selama bulan di Jogja, saya
mengasingkan diri dari pergaulan, mengunci diri di kamar hanya untuk 1 hal
yaitu 6.5 untuk si IELTS ini. Dalam sebulan tersebut benar-benar saya
maksimalkan untuk belajar, tidak jarang dalam 1 hari saya menghabiskan setengah
buku latihan Cambridge. Untuk speaking,
saya berlatih dengan membaca soal tersebut, lalu menjawabnya dengan merekam
ucapan saya sendiri tersebut. Dalam writing
section bisaanya saya berusaha
melatih diri untuk menulis pola yang sudah pernah dikerjakan dan mendapatkan score 6 atau 6.5 dari tutor. Pada latihan
listening, saya tidak hanya menjawab
apa saja soal-soal yang diberikan, namun juga menulis kata demi kata apa yang
dibicarakan oleh si orang yang ada di rekaman. Sedangkan reading, saya terus latih dengan mengerjakan soal soal di buku
latihan. Disiplin adalah kunci utama dalam latihan karena saya mengatur waktu
seperti pada saaat tes IELTS yang sesungguhnya. Latihan selama sebulan ini saya
lakukan terus menerus, bahkan apabila buku latihan sudah habis, saya cetak lagi dari awal dan saya kerjakan lagi. Hingga pada saat di akhir seminggu
terakhir sebelum tes yang sesungguhnya, saya merasa benar-benar mual. Mual
untuk melihat, bahkan mengerjakan buku latihan, belum lagi ada penurunan performance di bagian reading.
Saya mengikuti real test IELTS ini di IDP Yogyakarta. Jika saat itu gagal,
$220 melayang sudah.
Hari H pun datang. Tes IELTS yang
sesungguhnya akhirnya saya hadapi. Karena pendaftar tes begitu banyak akhirnya
hari tes dibagi 2, hari pertama untuk tes speaking,
dan hari kedua untuk yang lainnya. Di hari pertama saya datang tidak terlalu
pagi dan tidak terlalu mepet. Tes speaking
ini dilakukan di gedung PUsat Pelatihan Bahsa UGM lantai 3. Sebelum ruangan
untuk tes IELTS dibagi, kami dipersilakan untuk diambil foto sertifikat terlebih
dahulu. Hari itu hari jumat, saya mendapatkan giliran setelah jumatan, tetapi
dengan examiner Mrs. X, yang rumor dan legendanya, beliau adalah examiner yang
jutek dan sulit untuk memberikan nilai yang bagus untuk bocah-bocah baik
seperti kami.
Dengan langkah gontai setelah
jumatan, saya menaiki tangga dengan kaki yang rasanya lemas. Tidak bisa
membayangkan seperti apa jadinya nanti. Dengan perasaan pasrah, saya memasuki
ruangan tes. Dan, ternyata apa yang dikatakan mereka tidak sesuai dengan
kenyataannya. Mrs. X ini sangat baik dan ramah, selain itu apa yang
diucapkannya sangat jelas, sehingga bisa sedikit menghapus rasa gugup saya.
Alhamdulillah hari pertama berjalan dengan baik, at least sudah bisa menghapus
salah satu beban di kepala ini.
Keesokan harinya tes dilaksanakan
di Gedung X (saya lupa namanya) di dekat gedung XXI Yogyakarta. Apesnya di hari
itu, saya meninggalkan alat tulis yang sudah saya siapkan lengkap di atas
tempat tidur. Saya lupa mengeceknya kembali sebelum berangkat karena
tergesa-gesa. Allah Selalu Memiliki caraNya untuk menolong hambaNya. Di tempat
tes itu, saya bertemu dengan teman lama yang dia bersedia untuk membagi pensil
dan penghapusnya. Membagi yang benar benar membagi. Dia mematahkan separo
pensil dan penghapusnya untuk saya. Lalu Nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu
dustakan?
Tes pertama untuk listening, Alhamdulillah bisa berjalan
dengan lancar. Tes kedua. Reading.
Ternyata saya bertemu sesosok momok di sini. Soal yang berkaian dengan ilmu
sosial. Otak saya kurang banyak terlatih untuk memahami bacaan bacaan ini. Dan
akhrinya di akhir 5 menit, saya jawab jawaban – jawaban yang kosong dengan
metode intuisi. Writing, pattern yang
sudah saya latih tiap harinya bsa saya terapkan disini. Ekspektasi saat itu,
6.5 sudahlah cukup. Sudah mual untuk membuka buku latihan. Butuh istirahat.
Saya sudah berusaha sejauh ini,
untuk hasil bukan urusan saya. Allah Mengetahui yang terbaik untuk umatNya
Hari pengumuman pun tiba, saya
berusaha menguatkan diri apapun yang terjadi. Ketika portal terbuka, Allah
Menunjukkan kasih dan sayangnya. Alhamdulillah, score 6.5 di tangan. Golden
ticket di genggaman.
Köszönöm