Rabu, 17 Juni 2020

Catatan pernikahan tahun pertama

Pagi ini aku terbangun dengan kebingungan yang sama. Kebingungan yang sudah aku hadapi hampir satu tahun belakangan ini. Tentang makna keberadaanku. Tentang harapan dan mimpiku. Dan tentang kejutan-kejutan Allah dalam hidup. 

Sudah hampir 2 tahun aku menjadi seorang istri dari pria pilihanku. Ketika seseorang berkata bahwa menikah adalah ibadah paling panjang dan sulit, aku sungguh percaya. Tidak, bukan aku menyesali untuk menikah, hanya adaptasinya yang memang sangat menantang bahkan dari bulan pertama pernikahan.

Hidup adalah serangkaian adaptasi perubahan. Kita semua pernah menjalani hidup sebagai anak sekolah dasar yang kegiatannya hanya bermain dan sesekali belajar. Konflik hidup yang dialami juga berkisar pada berebut mainan atau cemburu pada adik karena merasa lebih disayang daripada kita. Lalu semua berubah ketika sekolah menengah, hidup tak lagi bisa ‘dinikmati’ sebagai permainan. Kita sudah harus mulai fokus pada pelajaran meski mulai juga merasakan konflik batin karena tertarik dengan lawan jenis teman sepermainan. 

Begitupun di dunia orang dewasa. Kadang aku merutuki ketidakmampuanku untuk easy-adaptdengan perubahan besar yang sedari awal sudah aku setujui terms and conditions-nya. 

Ketika seorang pribadi yang dibesarkan dari keluarga yang memiliki waktu bersama yang banyak. Yang dibesarkan oleh orangtua yang berprofesi wirausaha harus melihat suaminya pergi setiap hari pukul 8 sampai 5 untuk bekerja, hatiku sepi sekali. Seperti ditinggalkan. Lucu memang, bagaimana lingkungan keluarga saat usia dini bisa sangat berpengaruh pada kebutuhan emosional saat dewasa. Seringnya, di akhir pekan sekeluarga biasa keluar kota atau sekedar makan di restoran keluarga di kota kami. Sedangkan ketika menikah, suami bekerja sebagai pekerja yang sangat ketat terhadap waktu bahkan seringnya menghabiskan akhir pekan di tempat kerja. Satu adaptasi yang bahkan hingga hampir ulang tahun pernikahan kedua, aku belum menemukan jawaban atas kegetiran dan kekosongannya.

Kekosongan itu yang kemudian membuatku sering merindukan orang tua dan adik-adikku. Ternyata meski hati penuh cinta pada suami, tetap ada ruang di hati yang merindukan keluarga dan semua waktu-waktu yang biasa kami habiskan bersama. Pernah suatu hari, aku sudah sangat lelah dan ingin berlibur ke negeri Kanguru. Mengunjungi tempat kuliahku dulu sambil berjalan-jalan dan menikmati suasana yang aku rindukan. Ditambah kondisiku saat itu sudah sangat penat dan sangat butuh menghibur diri. Kusampaikan ajakanku pada orang tua. Mereka menyambut dengan senang ajakanku. Hanya saja, syarat dari mereka lumayan menyebalkan menurutku. Syaratnya adalah suamiku juga harus bisa ikut berlibur. Padahal jelas tidak mungkin aku mengajak suami untuk berlibur selama satu minggu. Bukan, bukan tentang uangnya. Tapi tentang izin cuti pada atasannya. Akhirnya rencana dan harapanku pupus sebelum berkembang. Lagi, aku menyalahkan pilihan pekerjaan suami yang tidak fleksibel dan kembali membandingkan dengan pekerjaan orang tuaku. Lagi, tanda aku belum berhasil adaptasi dengan perubahan.

Suatu waktu, kami harus meninggalkan rumah yang kami tempati. Memang sedari awal kami sudah berjanji akan menempati rumah tersebut dalam periode waktu tertentu. Rencananya tempat tersebut hanya menjadi ‘transit’ sebelum kami pergi ke negara lain untuk menempuh studi lanjut. Ternyata Tuhan lebih senang memberikan ujian dahulu sebelum nantinya diberikan kejutan dan hadiah-Nya. Malam itu, kami menangisi berantakannya rencana manusia karena kealpaan kami. Karenanya, kami harus meninggalkan tempat tinggal kami dan membuat rencana baru. 

Mengevaluasi dan menulis ulang rencana ternyata tidak semudah teori di buku manajemen strategi. Apalagi jika rencana ini bukan rencana organisasi yang tidak memiliki nyawa dan perasaan. Kami mengisi hari-hari membuat ulang rencana dengan saling menguatkan satu sama lain. Hingga akhirnya jatuh pilihan untuk melanjutkan hidup sebagai pasangan yang long distance marriage. Aku melanjutkan hidupku di Solo sebagai analis UMKM di usaha milik orang tua dan suami melakukan pekerjaannya di Jogja. 

Sungguh, jika kalian yang membaca ini memiliki rencana menikah dan akan LDM, aku sarankan untuk dipikirkan ulang rencana tersebut. Meski dengan kemudahan teknologi dan kepercayaan, ternyata pernikahan juga membutuhkan lekatan kasih sayang yang teknologi tak bisa membantu menyampaikannya.

Setelah kami rasa cukup 3 bulan menjalani hidup sebagai pasangan LDM, kami kemudian mengakhiri itu dan memutuskan untuk mencari kos pasutri. Iya, kalian tidak salah baca. Kami memutuskan untuk meneruskan hidup di kos pasutri.

Aku tertawa getir, hidup adalah serangkaian roller coaster. Kadang Allah beri titipan tempat tinggal nyaman dan luas. Dan dalam sekali waktu, Allah balikkan dan titipkan kita di tempat yang bahkan bukan milik kita seukuran 3x3m. Sepertinya Tuhan sedang menegur atas kelalaian kami untuk bersyukur dengan apa yang Dia beri sebelumnya. Pertimbangannya lagi, karena dalam rencana kami, ini hanyalah tempat sementara karena keberangkatan kami sudah dekat. Di sepetak kamar itu, aku banyak menulis dan membaca.  Mengikuti kelas Bahasa baru demi memberi makan ego-ku untuk berkembang. Kembali beradaptasi terhadap perubahan yang sangat signifikan dalam hidup. Sambil beberapa kali dalam seminggu pulang ke rumah orang tua untuk melaksanakan pekerjaanku.

Pernah suatu waktu aku menawarkan suami agar mau memakai tabungan pribadiku untuk membeli rumah kecil di pinggir kota Sleman. “Toh, aku menabung juga memang untuk kehidupanku dan keluarga yang sedang kujalani ini juga” – pikirku. Tapi sungguh, memilih pria bertanggung jawab sebagai kriteria nomor satu sebagai suami memanglah sepenting itu. Sambil melihatku, suamiku menjawab hangat bahwa uang dan harta yang aku miliki sebelum menikah adalah milikku sendiri. Dia merasa tidak memiliki hak atas kepemilikan dan tabungan yang aku kumpulkan seorang diri. Katanya lagi, jika aku memang ingin membantu keuangan rumah tangga, maka itu sebagai hadiah dan pemberianku kepada keluarga. Baginya, adalah kewajibannya sebagai suami untuk memberikan pangan, sandang dan papan yang terbaik bagi keluarga.

Beberapa waktu aku terdiam. Memikirkan apa yang sebenarnya sudah aku lakukan di masa lalu sehingga Allah beri hadiah sedemikian besar berupa suami yang bertanggung jawab dan menghargai istri? Lagi, sepertinya Tuhan sedang mengingatkan untuk meninggikan syukur diatas setiap keluhan.
Secara agama, semestinya istri selalu hormat dan sayang pada suami. Namun secara psikologis, ada masa-masa dimana aku mulai mempertanyakan ketidakmampuan suami dalam beberapa hal. Saat itu, mungkin aku lupa bahwa semua manusia pasti ada kekurangannya. Ketika aku mencintai kelebihan suamiku, maka aku juga harus menerima kekurangan yang dibawa bersamanya. Lagi, hal ini butuh adaptasi dan kebesaran hati yang luas. Aku masih sangat perlu belajar untuk itu dan sangat berterimakasih pada suamiku atas kesabarannya menghadapiku.

Jika pernikahan diibaratkan sebagai pesawat terbang, maka suami adalah pilot dan istri adalah co-pilotnya. Meski bagi penumpang, pilot hanya berkomunikasi beberapa patah kata tentang kondisi pesawat, tapi tidak di dalam kokpitnya. Selalu ada diskusi dan komunikasi dengan Bahasanya sendiri tentang keadaan pesawat itu. Agama dan keimanan adalah angin yang kemudian menerbangkan pesawat itu. Sungguh, tulisan ini semata untuk menjadi catatan kami sendiri. Bahwa imam dalam rumah tangga sangatlah penting untuk beriman dan beragama. Aku membayangkan pesawat yang porak poranda karena pilotnya tak memahami cara membaca arah angin dan tak mengerti bagaimana angin akan memudahkan perjalanan pesawat tersebut.

Ini bagian terakhir yang ingin kutulis dalam catatan ini. Bagaimana menambahkan anggota baru dalam hidup kita, juga menambah banyak pertimbangan berikutnya. Memiliki mertua dan keluarga baru adalah hampir sebuah pasti jika kalian memilih untuk menikah. Hal yang kusyukuri adalah tentang keluarga suami dan keluargaku yang ternyata mirip dalam pandangan hidup. Tentang berbagi pada sesama. Tentang memandang agama sebagai dasar hidup. Tentang iman dan kepercayaan pada Tuhan bahwa Dia lah Maha Terencana. Meski pasti diantara banyaknya persamaan pasti ada satu dua atau bahkan belasan perbedaan. Lagi, disini kemampuan adaptasi diuji.

Di sore hari ini, aku menutup tulisanku. Sayangnya masih dengan kebingungan yang sama dengan saat menulis kata pertama di file ini. Tapi tak mengapa, pikirku. Biar waktu yang nanti menjawab mengapa dan mengapa yang semakin banyak kutanyakan saat menjadi dewasa. Tak apa, tak semua hal harus ada jawabnya sekarang. Selamat mengudara dengan pesawat pernikahan, Zidnie. Terimakasih suamiku, sudah mau berjuang bersama menghadapi banyaknya awan, pelangi dan badai dalam jalan hidup kita berdua. Selamat satu tahun sembilan bulan pernikahan. Semoga catatan ini kelak mengingatkan kita berdua, bahwa kita melewati banyak fase bersama. 

Yogyakarta, 16 Juni 2020.
Bu Obi.