Sabtu, 17 Juni 2017

Penyesalan Positif Dibalik Film Animasi He-Man

Having a second chance makes you want work even harder – Tia Mowry

Bagi kita, generasi 90-an, He-Man adalah sosok animasi yang sempat­ Hype di eranya. Bagaimana tidak? Hampir setiap sore atau hari libur, mas-mas dengan rambut super nge-bob dan celana ombre ini tampil di layar kaca bertarung menggunakan pedang ajaibnya dengan sejumlah musuh antariksanya.

Di balik ke-booming-an sosok He-Man, ternyata karakter ini adalah besutan dari pabrik mainan bernama Mattell. Pada awalnya, Mattell adalah salah satu perusahaan mainan yang ditawari untuk memproduksi mainan Star Wars, yang mana pada saat itu belum meledak peminatnya. Namun, Mattell menolaknya, lalu diambil alih oleh perusahaan mainan lain, Kenner.

Ternyata, setelah itu, film Star Wars sangat meledak dan banyak sekali penontonnya. Hal ini berdampak pada peningkatan penjualan mainan Star Wars yang diproduksi oleh Kenner. Karena “menyesal”, akhirnya Mattell menciptakan mainan sendiri yang juga terinspirasi oleh petualangan luar angkasa dengan mengusung nama He-Man and the Masters of the Universe. Ide ini akhirnya membuahkan hasil karena mainan tokoh serial He-Man ini terjual laris manis.

Tidak berhenti sampai di situ, larisnya penjualan mainan ini menginisiasi Mattell untuk membuat serial film kartun He-Man agar penjualan mainan akan lebih meledak secara signifikan. Dalam merealisasikan idenya, Mattell menawarkan project ini ke rumah produksi. Pengajuan ini mengalami banyak sekali penolakan, kecuali rumah produksi bernama Filmation yang bersedia untuk memproduksinya.

Hambatan masih saja berjalan karena tidak ada satu stasiun TV pun yang mau untuk menayangkannya di sabtu pagi, di mana waktu ini adalah prime time bagi pemutaran film anak-anak. Presiden Filmation lalu mengusulkan untuk penayangan film dalam satu musim penuh sepanjang 65 episode, yang ditayangkan 5 hari dalam seminggu. Ide ini sukses dan meraih 9 juta penonton pada setiap harinya.

Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari sini?

Terkadang dalam kehidupan, kita sering sekali memutuskan hal-hal yang tidak dipikir dulu dengan matang bagaimana dampak ke depannya. Padahal kesempatan tersebut adalah kesempatan emas apabila mau berpikir rasional dan visioner. Keputusan final yang salah itulah yang akhirnya tidak jarang untuk disesalkan. Kalimat-kalimat seperti, “ah, seandainya saya dulu blah blah blah” atau “coba saja kalau dulu blah blah blah”.

Pada awalnya, akan menjadi suatu hal yang sangat wajar ketika kita kaget mengetahui kita kehilangan kesempatan emas itu. Sesak di dada hingga tidak tahu harus berpikir dan berbuat apa. Namun, kehidupan tidak berhenti di sini. Bagaimanapun keadaannya, kehidupan tidak akan peduli dan waktu akan terus bergulir. Lapangkan dada seluas-luasnya untuk menerima kenyataan.

Everyone deserves to obtain the second chance. Kesempatan kedua, kita bisa mengambil banyak sekali pelajaran dari apa yang kita sesalkan karena menanggalkan peluang emas pada kesempatan pertama. Namun, tidak menjadi soal apabila kita segera bangkit dari penyesalan, keep the head up, lalu memulai merencakan mimpi dan agenda selanjutnya.

Yuk segera berbuat!

Köszönöm

Sumber kisah He-Man: http://www.boombastis.com/heman-90an/45328