Having a second chance makes you want work even harder – Tia Mowry
Bagi kita, generasi 90-an, He-Man adalah sosok animasi yang sempat
Hype di eranya. Bagaimana tidak?
Hampir setiap sore atau hari libur, mas-mas dengan rambut super nge-bob dan celana ombre ini
tampil di layar kaca bertarung menggunakan pedang ajaibnya dengan sejumlah musuh
antariksanya.
Di balik ke-booming-an sosok He-Man, ternyata karakter ini adalah
besutan dari pabrik mainan bernama Mattell. Pada awalnya, Mattell adalah salah
satu perusahaan mainan yang ditawari untuk memproduksi mainan Star Wars, yang
mana pada saat itu belum meledak peminatnya. Namun, Mattell menolaknya, lalu diambil alih
oleh perusahaan mainan lain, Kenner.
Ternyata, setelah itu, film Star
Wars sangat meledak dan banyak sekali penontonnya. Hal ini berdampak pada
peningkatan penjualan mainan Star Wars yang diproduksi oleh Kenner. Karena
“menyesal”, akhirnya Mattell menciptakan mainan sendiri yang juga terinspirasi
oleh petualangan luar angkasa dengan mengusung nama He-Man and the Masters of the
Universe. Ide ini akhirnya membuahkan hasil karena mainan tokoh serial He-Man ini terjual laris manis.
Tidak berhenti sampai di situ,
larisnya penjualan mainan ini menginisiasi Mattell untuk membuat serial film
kartun He-Man agar penjualan mainan
akan lebih meledak secara signifikan. Dalam merealisasikan idenya, Mattell
menawarkan project ini ke rumah produksi. Pengajuan ini mengalami banyak sekali
penolakan, kecuali rumah produksi bernama Filmation yang bersedia untuk
memproduksinya.
Hambatan masih saja berjalan
karena tidak ada satu stasiun TV pun yang mau untuk menayangkannya di sabtu pagi, di
mana waktu ini adalah prime time bagi
pemutaran film anak-anak. Presiden Filmation lalu mengusulkan untuk penayangan
film dalam satu musim penuh sepanjang 65 episode, yang ditayangkan 5 hari dalam
seminggu. Ide ini sukses dan meraih 9 juta penonton pada setiap harinya.
Lalu, pelajaran apa yang bisa
kita petik dari sini?
Terkadang dalam kehidupan, kita
sering sekali memutuskan hal-hal yang tidak dipikir dulu dengan matang
bagaimana dampak ke depannya. Padahal kesempatan tersebut adalah kesempatan emas
apabila mau berpikir rasional dan visioner. Keputusan final yang salah itulah
yang akhirnya tidak jarang untuk disesalkan. Kalimat-kalimat seperti, “ah,
seandainya saya dulu blah blah blah”
atau “coba saja kalau dulu blah blah blah”.
Pada awalnya, akan menjadi suatu
hal yang sangat wajar ketika kita kaget mengetahui kita kehilangan kesempatan emas
itu. Sesak di dada hingga tidak tahu harus berpikir dan berbuat apa. Namun,
kehidupan tidak berhenti di sini. Bagaimanapun keadaannya, kehidupan tidak akan
peduli dan waktu akan terus bergulir. Lapangkan dada seluas-luasnya untuk
menerima kenyataan.
Everyone deserves to obtain the
second chance. Kesempatan kedua, kita bisa mengambil banyak sekali pelajaran
dari apa yang kita sesalkan karena menanggalkan peluang emas pada kesempatan
pertama. Namun, tidak menjadi soal apabila kita segera bangkit dari penyesalan,
keep the head up, lalu memulai merencakan mimpi dan agenda selanjutnya.
Yuk segera berbuat!
Köszönöm
