Selasa, 19 Maret 2019

Dibalik tagar #Restu

“Restu orang tua adalah restunya Allah”


Halo semua,
Zidnie disini.

Setelah berminggu-minggu berkontemplasi apakah saya harus ngeblog dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris karena sebenernya saya lebih nyaman menulis dengan Bahasa Inggris karena rasanya lebih thoughtful hehehe, tapi saya pikir mungkin lebih baik menulis dengan Bahasa Indonesia karena kalau baca curhatan pake Bahasa Inggris pembaca merasa cem baca artikel jurnal ya hahaha.

Beberapa minggu belakangan social media ramai dengan berita pernikahan Syahrini dan Reino Barack (LOL emak emak banget ya). Jujur, saya sih penasaran karena yang dirahasiakan biasanya malah lebih menarik hahaha. Dan setelah akhirnya 
 mereka mempublikasikan pernikahan mereka di Jepang, ada tagar yang menarik sekali, tagar #Restu selalu muncul di setiap postingan pernikahan mereka. Menarik karena dibalik kontroversial kisahnya seakan-akan ingin menunjukkan bahwa hubungan mereka direstui dan mereka bahagia dan bangga akan itu.



Diluar kepentingan single lagu atau gossip apapun, disini saya ingin menghighlight pentingnya #Restu orang tua, tak hanya dalam sebuah hubungan tapi dalam semua keputusan hidup - berdasarkan kisah nyata.

Dalam setiap hubungan percintaan orang dewasa, muaranya adalah komitmen seumur hidup dalam pernikahan. Dalam islam, syarat menikah adalah mempelai wanita, mempelai pria, ijab qabul, saksi dan wali nikah. Wali nikah adalah ayah dari mempelai wanita yang dengan sadar menikahkan anak perempuannya. Disinilah pentingnya #Restu orang tua.

Tidak semua orang, saya percaya, memiliki privilege untuk mendapatkan restu orang tuanya ketika menikah. Entah karena ayah ibu nya telah meninggal atau memang berbeda pendapat sehingga terpaksa menikah tanpa restu.

Pelajaran jaman saya SD bahwa restu orang tua adalah restunya Allah tampaknya diaminkan oleh alam. Pernah suatu waktu, saya memaksakan diri untuk mendaftar magang di Jakarta. Sudah sangat percaya diri karena kemungkinan lolos sangat besar dengan kualifikasi saya. Satu hari setelah wawancara, saya bilang ke orang tua dan ternyata mereka tidak mengizinkan dengan alasan keamanan anak perempuan satu-satunya ini. Benar saja, beberapa hari kemudian saya mendapat rejection dari perusahaan tersebut. Saya sempat berfikir “wah ini semua gara2 doa orang tua saya nih saya jadi ditolak”. Padahal orang tua tidak akan pernah mendoakan kegagalan untuk anaknya.

Tak hanya masalah  pekerjaan, masalah percintaan pun (saya tidak newbie-newbie amat dalam percintaan hahaha). Meski banyakan jomblo nya daripada in relationship, tapi saya pernah membicarakan beberapa pria kandidat kuat kepada orang tua saya. Meski tak pernah dilarang untuk menentukan pilihan saya sendiri, tapi tampaknya orang tua memang memiliki preferensi dan ‘doa’ sendiri untuk pasangan hidup anaknya.

Hal paling sepele menurut saya adalah tentang jarak usia. Ibu saya berkata bahwa anak bandel susah dibilangin macem saya ini manutnya sama pria yang lebih tua, 3-5 tahun diatas saya. Saya mengindahkan itu, menurut saya kedewasaan tidak dapat diukur dengan hanya usia saja.

2018 awal, ketika dekat dengan mas Fahmi, saya mencari informasi dasar tentang dia di Facebook. Dan saya kaget sekali ketika ternyata mas Fahmi kelahiran tahun 1990 dimana jarak umurnya adalah 3 tahun lebih dengan saya. Surprise!

Kini saya percaya, bahwa #Restu orang tua memang berperan sangat besar. Dari ucapan yang sepele tapi ternyata sangat filosofis itu ada doa yang paling didengar oleh Tuhan. Bisa jadi semua kesuksesan dan kebaikan yang kita dapat hari ini karena orang tua kita ridho dengan apa yang kita lakukan. Sebaliknya, bisa jadi kesusahan kita akhir-akhir ini karena ada hak orang tua yang belum kita lakukan, seperti memberi kabar via telfon atau mengunjungi orang tua.


Ini menjadi pengingat untuk saya sekeluarga sendiri, untuk selalu berbakti pada orang tua, meminta restu dan ridhonya, insyaa Allah dibalik semua doa mereka ada kebaikan untuk kita ;)

Bonus: detik-detik dimana ayah saya menikahkan saya dengan mas Fahmi


Cheers! 
Zidnie. 

Selasa, 19 Februari 2019

The compromise.

“If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together” – proverb.



Hi everyone,
Zidnie is back.

Recently one of my best friend came to Jogja. We had a quick meeting and a catch-up discussion. One time, she said “I am still shocked with your decision to marrying mas Obi, Zid. First, I just never imagined you as a wife. Because I know you are quite ambitious and I am still amazed by how you delighted to give in and live in mas Obi’s shadow”.

I smiled, “I believe our spouse is our forever team-mate. We definitely need to work together and work closely with him to achieve goals. Even when we had to hardly row the boat to move, we will do it together”. #remindmeofthisgreatmindofmine #LOL


To be able to achieving goals, we need to compromise. Compromise doesn’t mean you failed. Compromise means you are wise enough to know your place, duty and do the best. Marriage is pretty much like the company. The financial manager could not be the sales manager at the same time. People in organization should divide the job so the company could run smoothly. It does not mean that the financial manager is less important than the sales manager, isn’t it?

I am forever grateful. Someone is doing his best to be my husband, even we are both newbie to be this position. We are also trying to figure out the best rhythm for both. But once again, compromise and compromise. Do our best in our-own task, and we will go far, together.



Happy 5th month being with me, mas Fahmi!

Minggu, 06 Januari 2019

The difference.

Well, Hi there!
It’s Zidnie again.

I am so sorry for being absent in December as I started new things on my life; doing business. – I will tell you more about this later, K?

What I will be talking about in this post is the difference. The difference means a gap between what you have been doing/getting compare to someone’s.

Entering 3 months ++ being a wife, I started to feel kinda shock culture with the little family of mine. Mas Fahmi been so busy with his academic life as a lecturer with all the quizzes, research, seminars etc. I don’t mind, I could say, this is our dreams; he as a teacher and me doing business. That is our dreams.

Candidly capture him while workin
But what makes me shock is there is no days off for them. Like not at all. Even at the weekend mas Fahmi should keep up with students and visiting the poultry farm then early in the next morning, he should do the “planning draft” and punctually should come to the Uni. Buzzzzzy.

Meanwhile, I was born and grow in a very different family. My parents are an entrepreneur; I rarely see them rush in the morning. They do busy with all the receipts and so many calls and meetings etc, but I never see them being so busy (as I was at school from 7 am to 4 pm) LOL. We could just go whenever we wanna go. We could easily go on a holiday at the low season (so we could get lower price of airlines LOL). So yeah, I was shocked but also challenged with my life now.

There was night when mas Fahmi hugged me tight and said, “sorry sayang, I chose this path” because I was asked has he have a day off so we could go out of town. The other night, he whispered at me “thank you for your sacrifice, sayang. I know you can do more than this, but you decide to stay. Are you regret marrying me?”. He feels bad cause he brings me to Jogja and left me at home while he thinks I have a choice to go to a better place.

Well, I am grateful of who I am now, dear, no regret even a bit, because I have a great husband who tries his best to be responsible at me and our family. I am proud of him, as much as I respect everyone who could come morning at the office and done their jobs on desk. Respect!



– cause I don’t think I could fit with the job requires my morning presence at the office. So this kind of job fits me best. LOL.